YESALYA ANGELITA CRISTY

15 Oct

Suatu ketika guru sastra kami di St.Jhons School meminta kami menceritakan arti dari sebuah nama, baik nama-nama orang terkenal atau bahkan yang belum pernah dikenal. Aku pernah mendengar dongeng ayahku tentang nama seorang yang hebat dengan  kisah yang luar biasa diawal hidupnya, aku  harus menceritakan dongeng ayahku itu kepada teman-temanku di depan kelas, dongeng tentang mengapa orang tuaku memberi nama Yesalya Angelita Cristy padaku, dan saat aku menceritakan tentang hal luar biasa itu, mereka akan menjadi penyimak yang sangat baik tanpa mengeluarkan sepatah kata pun selain “wow”.

Malam itu jadi tak begitu bersahabat buat keluarga Albert, ia bergegas menuju St.Agustine Hospital yang terletak cukup jauh dari kantornya. Waktu menunjukan pukul 10.30 p.m, ayahku lalu lalang diruang tunggu tepat didepan pintu kamar kamar operasi, dibalik pintu itu tergeletak seorang wanita yang sangat ia cintai, usia wanita itu baru 31 tahun. Tampak raut wajah tegang terpancar diwajahnya, bagaimana tidak, saat ia sedang mengambil lembur dikantornya tiba-tiba telpon bordering dan ia mendengar kabar bahwa istrinya Ana baru saja jatuh dari tangga dan sekarang sedang berada di Rumah Sakit. Sesungguhnya bukan hanya itu hal yang ia cemaskan, Ana tak sendiri disana, bukan karna ada luka serius pada Ana, bukan juga karna fraktur atau kepalanya terbentur melainkan Ana saat ini sedang hamil 8 bulan, sebuah pendarahan hebat terjadi saat ia jatuh tadi, dibalik pintu itu dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Ana dan calon buah hatinya bersama Ana.

Kursi tunggu menjadi begitu sangat panas, sesekali ia harus mengangkat telpon dan mengatakan “Dia masih dikamar operasi”. Kedua tangannya kembali meremas potongan rambut kecoklatan ala Stiffler dalam film American Reunion. Tidak ada alasan untuk tenang saat ini. Sesekali ia menengadahkan kepalanya ke atas seaakan sedang berbicara pada Tuhan “Tolong selamatkkan istri dan anakku, jangan biarkan hal buruk terjadi pada mereka”.

Albert memperhatikan jam tangannya, sudah satu jam tanpa sedikitpun menyentuh kursi berwarna biru yang berada disamping pintu kamar operasi. Lima menit berselang, seorang dokter keluar dari kamar operasi, tanpa menunggu waktu panjang Albert menghampirinya dan siap menembakkan pertanyaan yang sudah dari tadi ingin ia muntahkan dari pistol diujung pita suaranya “Dok, bagaimana keadaan istri anda?”

“Anda suami nyonya Ana?”

“Iya dok, saya Albert suaminya Ana”

“Begini tuan Albert, istri anda mengalami pendarahan hebat dan kami harus segera mengeluarkan bayi yang ada dirahimnya dengan operasi cessar karna nyonya Ana benar-benar dalam status yang tidak memungkinkan untuk lahir normal, untung saja kami masih punya persediaan darah, sehingga saat ini kondisi istri anda stabil, tapi…”

“Tapia pa dok?”

“Kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan kandungannya” Lalu ia terdiam sesaat.

“Anak anda tidak bisa kami selamatkan. Saya harap anda bisa bersabar” Lanjutnya.

Albert seperti ditembak senjata AK-45 bertubi-tubi, jantungnya berdebar kencang, ia tumbang dikursi biru yang sedari tadi menggodanya untuk dijamah. Tidak akan ada boneka Terry Bear seperti yang ia janjikan pada anak itu setiap malam saat ingin tidur dan tidak akan ada yang mengenakan sepasang sepatu Spongebob berwarna kuning yang dibelinya bersama Ana seminggu yang lalu. Dr.Orlando menepuk pundaknya dan mulai melangkah pergi. Albert menegadah dan meminta mujizat terjadi dalam hidupnya. Ia benar-benar tak mau kehilang anak pertamanya itu.

 

***Dibalik pintu***

Beberapa suster merapikan alat yang baru saja digunakan untuk membedah Ana, dokter anastesi yang bernana Willyam masih memperhatikan monitor yang menunjukkan tanda-tanda vital wanita yang masih terbaring dimeja operasi itu. Ana masih dapat berbicara dengan baik karna hanya dilakukan anastesi local pada ekstremitas bawahnya, name tag semua orang yang berada disana tak luput dari pandangannya, ia kemudian memiringkan kepalanya, tak ada suara bayi menangis disana, dr.Orlando menyampaikan penyesalannya karna tak bisa menyelamatkkan bayinya, lalu dr.Orlando membersihkan tangannya dan berjalan kearah pintu kemudian hilang dibalik pintu tersebut, semua masih bisa ia lihat dan dengar dengan jelas. Ana memandangi dr.Willyam yang menganggukan kepalanya seolah berkata “sabar ya”, seorang suster memberikan motivasi agar ia bersabar, namun air matanya tak dapat dibendung lagi, ia menyadari hal buruk baru saja terjadi.

“Aku ingin menggendong anakku” ucapnya pilu pada suster yang berdiri disampingnya.

“Jangan sekarang nyonya, anda harus kuat menghadapi ini semua, saya mengerti perasaan anda” suster Dona tidak ingin Ana akan mengalami depresi jika melihat bayinya yang tidak bernyawa.

“Aku ingin melihat bayiku sekarang juga, bayiku tidak mungkin mati, berikan dia padaku” Ana berteriak dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, air matanya masih mengalir deras.

Suster Dona melihat kearah dr.Willyam yang langsung mengangguk, seolah terjadi percakapan kecil dari kontak mata mereka “apa aku harus memberikan bayinya?”. “Berikan apa yang ia mau”.

“Aku akan membawanya padamu” ucap suster Dona.

Bayi malang itu telah dibungkus rapi dengan kalin berwarna putih, namun wajahnya dibiarkan terbuka, Ana meminta agar bayi itu diletakkan didadanya agar bisa tersentuh olehnya. Suster Dona mengikuti semua kemauan Ana. Lalu Ana mengangkat bayi itu dan mencium keningnya, air matanya masih tak bisa berhenti mengalir.

“Kamu tidak boleh mati anakku” ucapnya lirih, lalu Ana memejamkan matanya sesaat. Terlihat senyum yang ia paksa keluar dari raut wajahnya yang kusut.

“Kau tau nak, aku menjagamu hingga 8 bulan, kau ingat apa yang ayahmu katakana? Kau akan jadi anak yang hebat suatu saat nanti, bangunlah nak”.

Suster Dona, dr.Willyam dan dua orang suster lainnya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Mereka benar-benar terdiam, bahkan suster Dona tak menyadari air matanya perlahan menetes. Ia seolah mengerti apa yang dirasakan Ana saat ini, ia pasti sangat kehilngan.

“Biar kubawa dia” ucap suster Dona.

“Tidak, aku masih ingin menggendongnya, sebentar lagi ia akan menangis, aku ingin menyusuinya saat ia menangis”

“Tapi nyonya Ana, anda harus menerima kenyataan bahwa anak anda sudah meninggal”

“Anakku tidak meninggal”.

“Nyonya Ana sadarlah” lanjut suster Dona.

Ana sama sekali tidak menghiraukan apa yang diucapkan suster Dona, la memeluk bayi itu lalu mengangkatnya lagi, lalu ia memperhatikan wajah bayi yang mulai memucat itu.

“Nak, bangunlah”

Lalu Ana meniup mulut bayi itu dan kembali mencium keningnya.

 

 

 

 

 

@@@Didepan Kamar Operasi@@@

Sudah pukul 11.58 p.m. Rumah Sakit St.Agustine tampak sepi, para perawat berjaga di Nurse Station masing-masing, security rumah sakit berkeliling disekitar lorong-lorong teras. Ruang UGD tampak lenggang, beberapa perawat sedang duduk sambil menceritakan hal-hal lucu yang membuat mereka sesekali tertawa.

Dr.Orlando baru beberapa langkah meninggalkan Albert yang tampak terpukul dikursi biru yang terbuat dari plastic itu, Ia juga sangat tertekan karna tidak mampu melakukan hal yang terbaik untuk Ana.

“Dokter Orlando?”

Suster Dona keluar dan berteriak dari depan kamar operasi bersama suara tangisan seorang bayi yang terdengar sangat jelas saat pintu itu diibuka. Wajah gembira suster Dina tak bisa dibendungnya, wajah berseri-seri yang tampak nyata dihadapan Albert yang tersentak seolah tak percaya akan apa yang ia dengar, senyumnya seketika mekar. “Selamat Tuan Albert, Ini mujizat yang sangat luar biasa, anda menjadi seorang ayah, putri anda bagai seorang malaikat kecil” ucap Dona.

Dr.Orlando terpaku ditempatnya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, berusaha meyakinkan pendengarannya, lalu perlahan membalikkan badannya yang masih tak bisa percaya akan apa yang ia dengar, suara bayi itu nyata mengisi seluruh lorong ruang operasi.

Lonceng Gereja berdenting kencang diluar rumah sakit dan salju mulai turun menutupi rerumputan yang masih tertidur. Albert berdiri disamping Ana, ia orang pertama yang diijinkan masuk ke kamar operasi sebelum semua alat dirapikan. “Selamat Natal sayang, Ini hadiah terindah yang pernah aku dapatkan pada hari natal, Malaikat kecil yang diselamatkan dimalam natal” ucap Ayahku lalu ia mengecup bibir ibuku.

 

TAMAT

 

 

 

Advertisements
studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Azza's Note

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: