Kisah Hilman dan Potret Kesehatan Indonesia

3 Dec

Widget Lomba Blog FPKR kecil

Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Wajah dunia kesehatan di Indonesia kini sudah cukup menjanjikan, banyak program pemerintah untuk membantu masyarakat miskin telah diluncurkan, sebut saja KJS (Kartu Jakarta Sehat) yang diprogramkan Gubernur DKI Jakarta atau Kartu Sehat Bandung yang diluncurkan Pemkot Kota Bandung.

Namun demikian, masalah kesehatan masih belum mampu mencakup sebagian besar rakyat miskin di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada bulan maret 2013 jumlah masyarakat miskin di Indonesia masih mencapai 28,07 juta jiwa. Sementara itu menurut data dari Kompas.com, meskipun Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) mulai efektif pada tanggal 1 Januari 2014 mendatang, sebanyak 10,3 juta penduduk miskin di Indonesia dipastikan tak bakal mendapat layanan dan jaminan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Hal itu disebabkan pemerintah hanya menyetujui jumlah penerima bantuan iuran (PBI) jaminan kesesehatan (Jamkes) untuk orang miskin dan tidak mampu sebesar 86,4 juta orang dengan nilai iuran Rp 19.225 per orang. Sangat disayangkan.

Seiringan dengan berjalanya program-program pemerintah ini tidak diimbangi dengan infrastruktur kesehatn yang memadai dan menyeluruh, masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum menyediakan balai pengobatan yang memadai dan tenaga kesehatan yang kompeten khususnya di daerah-daerah terpencil. Pemerintah dirasa bertanggungjawab atas pengadaan infrastuktur dan sumber daya manusia yang memadai untuk menyelaraskan program-program yang dicanangkan untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut.

Diluar hiruk pikuk perjalanan kesehatan di Indonesia dan program-program pemerintah yang entah kapan akan rampung, saya menemukan potret pelayanan kesehatan yang tidak mencakup rakyat miskin di sebuah desa kecil di pinggiran kota Tangerang.

Saya adalah seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi kesehatan, pada tahun 2010 saya dan beberapa teman mengadakan praktik lapanagan disalah satu desa yang terletak dipinggiran kota Tangerang.

Siang itu, Pak Dimiatri sedang sibuk membereskan puing-puing bambu penyanggah atap rumah yang telah lapuh. Diusianya yang menginjak angka 79 tahun, ia masih terlihat bersemangat. Bersama ketiga anaknya Andriansyah, Deri dan Hilman, mereka bersama-sama membangun kembali istana dari bilik bambu yang terletak di Desa Situ Gadung, Kelurahan Kadusirung, Tangerang. Penyanggah-penyanggah rumah harus segera diganti jika tak ingin air hujan membasahi seluruh ruangan yang berlantai tanah itu. Jangankan untuk memiliki sebuah atap genteng atau dinding bata, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari Dimiatri harus berjuang keras, mengumpulkan kardus-kardus bekas dan kaleng-kaleng sisa minuman dari tempat sampah. Setiap hari Pak Dimiatri dibantu kedua anaknya Andriansyah dan Deri harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari dan mengumpulkan apa saja yang bisa mereka jual pada pengepul, sementara Ibu Titin harus tetap berada dirumah untuk menjaga Hilman yang mengalami kelumpuhan sejak usianya 7 tahun.

Tak banyak yang dapat mereka lakukan untuk mengobati Hilman saat itu, demam yang tiba-tiba membuatnya harus beristirahat dalam waktu yang sangat lama tanpa pertolongan medis. Kini usianya 16 tahun, dengan otot-otot kaki yang mengecil karna terlalu lama tidak digerakkan membuatnya tidak sanggup untuk berjalan, untuk menggerakkan tangannya saja ia harus dibantu oleh ibunya, bahkan semua kebutuhannya bergantung pada ibu, ayah dan saudara-saudaranya.

Andriansyah dan Deri harus memupuskan niatnya untuk melanjutkan sekolah, Pak Dimiatri hanya mampu membiayai mereka hingga lulus SMP walau Andriansyah sempat merasakan setahun menjenjang bangku SMA namun ia tak bisa berbuat banyak saat Dimiatri tak sanggup lagi membiayainya. Andriansyah juga lebih memilih membantu kedua orangtuanya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bila malam tiba, di gubuk yang hanya terdapat satu ruangan dengan satu lampu penerangan dari listrik yang disalurkan oleh tetangga sekaligus pemilik tanah yang mereka tempati itu, mereka berkumpul sekedar untuk melepas lelah sambil bercanda satu sama lain, sebuah TV hitam putih 12 inc menemani mereka menyaksikan banyolan dari para wayang orang dalam acara komedi yang ada di TRANS TV. “OVJ” rengek Hilman meminta menyalakan TV untuk menyaksikan acara TV favoritnya. Sejenak mereka merasa lepas dari beban yang sesungguhnya setiap hari mereka pikul. Tawa keluarga itu lepas ketika Parto, Sule, Azis, Andre dan Nunung beraksi di panggung Opera Van Java. Hampir setiap episode tak pernah dilewatkan Hilman.

Saat ditanya siapa pelawak yang paling ia suka, dengan cepat ia akan menjawab “Sule”.

“Sule lucu” katanya, itulah alasan kenapa Hilman sangat mengidolakan pria dengan nama Sutisna itu.

Dengan penghasilan keluarga Pak Dimitri yang berkisar antara Rp.5.000 hingga Rp.10.000 perhari membuat Ibu Titin harus meminta belas kasihan agar diberi hutang diwarung untuk menutupi kebutuhan dapurnya agar tetap mengebul. Keinginannya untuk membelikan kursi roda untuk Hilman harus ia kubur dalam-dalam.

“Mau ada kursi roda. Kalau ada kursi roda kan bisa lebih mudah bawa Hilman kemana-mana” ujar Ibu Titin saat ditanya harapannya untuk Hilman.

Saat ditanya tentang status kesehatan Hilman, Pak Dimitri hanya menjawab singkat “Klo Hilman sakit atau keluarga sakit, paling beli obat warung”.

Saya sempat menanyakan apakah Hilman pernah dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit? Kemudian saya menanyakan apakah pernah mendapat kunjungan tenaga kesehatan? Jawabannya kembali tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. “Puskesmas jauh, boro-boro bisa bawa Hilman kesana, gendong ke sumur aja susah. Klo di data sih pernah, tapi Cuma sekali abis itu nggak ada lagi petugas dari Puskesmas kesini”

Ironis memang, mendengar cerita dari keluarga Pak Dimitri. Ini hanya gambaran kecil potret kesehatan di Indonesia. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu keluarga ini. Pernah saya melaporkan keadaan Hilman ke Puskesmas terdekat, namun tidak pernah ada tindak lanjut dari Puskesmas dan tenaga kesehatan di daerah itu.

Tahun 2013, saya kembali mengunjungi kediaman Hilman untuk sekedar silaturahmi. Jelas, tujuan saya ingin bertemu sosok Hilman. Namun apa yang saya dapatkan sungguh diluar pemikiran saya. Saya memang bertemu dengan Pak Dimitri yang sedang membereskan hasil memulung dan Ibu Titin yang sedang sibuk memasak. “Astafirulah” sambut suara Ibu Titin saat melihat kedatangan saya. Saya dapat melihat matanya berkaca-kaca bahkan air matanya sudah menetes perlahan.

“Kemana aja baru kelihatan?” tanyanya sambil mengusap air mata.

“Maaf bu baru sempat main kesini lagi” jawab saya singkat lalu Pak Dimitri mempersilahkan saya duduk.

Banyak hal yang diceritakan olah Pak Dimitri tapi, satu hal yang saya tidak bisa lupakan adalah pada tanggal 6 januari 2011, seorang putranya menghembuskan nafas terakhirnya menggunakan baju Timnas Indonesia yang pernah saya berikan sebelum praktek lapangan saya selesai. Yang lebih memprihatinkan, ia bahkan tidak tersentuh oleh tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan apapun.

Potret kesehatan Indonesia yang cukup memprihatinkan saat ini. Akankah program pemerintah mampu mencapai mereka yang berada ditempat-tempat terpencil lainnya? Masih adakah kisah Hilman-Hilman lain diluar sana?

 

Advertisements

3 Responses to “Kisah Hilman dan Potret Kesehatan Indonesia”

  1. An Maharani Bluepen December 18, 2013 at 3:13 am #

    sediiih bacanyaa… semoga ga ada Hilman-Hilman lain di luar sana..
    T-T

    • scendry December 18, 2013 at 10:09 am #

      Amin,,, Semoga peran serta pemerintah dan program-programnya mampu menjangkau mereka yang “lebih” membutuhkan hidup sehat dan layak…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pengumuman Lomba Blog FPKR | Blog FPKR - January 19, 2014

    […] Nama        : Marselus Ocen Judul Naskah    : Kisah Hilman dan Potret Kesehatan Indonesia Alamat Blog   […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Huraira Story

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: