Pengakuan Dosa

31 Jan

2013-03-04 17.59.44

Sebagai seorang Katolik yang sudah ‘dipermandikan’, aku didoakan oleh banyak orang agar menjadi orang yang baik dan selalu berada di jalan Tuhan. Rajin ke gereja dan taat beribadah, mengikuti sepuluh perintah Allah dan lima perintah gereja yang detik ini sudah tak lagi ku ingat isinya, mencintai sesama, mejauhi semua larangan Tuhan yang tertulis dalam KItab Suci dan masih banyak lagi.

Aku masih ingat sedikit kenangan ketika aku masih kecil dan masih begitu polos, mungkin usiaku saat itu tujuh atau delapan tahun saat pertama kali aku melakukan pengakuan dosa menjelang peringatan Natal. Di sebuah gereja kecil (Gereja St. Paulus) Aku duduk didepan dengan baju putih dan celana hitam bersama beberapa orang teman masa kecilku yang juga akan melakukan ‘pengakuan dosa’, Pastur sudah duduk di tempat yang sudah disediakan khusus untuk mendengar dosa-dosa kami, sebuah ruangan kecil dengan dua kursi yang saling berhadapan. Satu per satu teman-temanku masuk kesana, perasaan deg-degan dan takut semakin terasa saat dua orang disampingku sudah keluar dari ruangan yang sepertinya menyeramkan tersebut. Aku berdiri perlahan, melangkah dengn penuh rasa takut sambil menghafalkan beberapa doa pembuka sebelum menyebutkan dosa-dosa yang kulakukan.

“Silahkan duduk” sambut Pastur yang berusia kurang lebih 40 tahun dengan jubah putih panjang yang bersih. Tanpa kata aku berlutut sesaat lalu duduk dikursi kayu yang sudah disiapkan tepat dihadapannya.

Lalu doa yang kuhafalkan sejak seminggu lalu itu melantun dari mulutku, hampir tak ada yang salah dengan apa yang diajarkan oleh guru agamaku.

“Sebutkan dosamu” suara itu terdengar jelas ditelinggaku, mataku bahkan tak berani menatap wajah Pastur yang duduk tepat didepanku, aku tertunduk, menatap ujung selendang ungu yang melingkar di lehernya, rajutan keemasan yang ada disana membentuk motof bunga yang indah. Waktu terasa begitu panjang dan menakutkan.

Aku hanya coba mengingat dosa apa yang pernah aku lakukan hingga terlintas beberapa kali aku membohong orang tuaku dan mengambil sedikit uang dari dompet ayahku untuk membeli es krim dari penjual es keliling yang sering lalu-lalalang di sekolahku.

“Berbohong…” aku terdiam sesaat,

“Mencuri…” lanjutku.

Saat itu hanya dua dosa itu yang terlintas dibenakku, ya benar-benar hanya ada dua yang mampu ku ingat. Bahkan sampai saat ini aku tak pernah ingat dosaku di usia tujuh tahun.

“… dan dosa-dosa yang mungkin saya lupa.” tutupku setelah mencoba keras mengingat kesalahan yang aku lakukan.

Mengingat masa kecilku yang begitu menyenangkan, dimana aku hanya melakukan dua dosa, hanya dua, sebuah angka yang begitu kecil. AKu sangat ingin kembali ke masa itu, dimana aku hanya bisa melakukan dua dosa kecil yang bahkan tak menyakiti banyak orang, bukankah menyenangkan jika kita hidup hanya dengan dua dosa?

Lalu aku berkaca pada seseorang yang dulu melakuan dua dosa itu; mencuri dan berbohong, berkaca pada sosok kecil polos berusia kurang dari sepuluh tahun itu. Sekarang anak kecil yang punya dua dosa itu jika ia duduk didepan Pastur untuk mengakui dosanya, Pastur itu akan minta rehat beberapa kali atau mungkin harus disisakan pada pengakuan dosa berikutnya baru semua dosa yang dilakukannya dapat ia ungkapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Azza's Note

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: