DARI SECANGKIR KOPI

24 Apr

Reza

***2012***

Sudah pukul dua pagi, aku dan teman-temanku masih sibuk tertawa membahas cerita-cerita  klasik  kami  semasa  kuliah,  secangkir  kopi  panas  menemani  kami  menunggumatahari yang tadi sore terbenam, tak ada niat beranjak atau ingin cepat-cepat menujurumah dan memeluk guling dikamar tidur kami masing-masing, sudah setahun kami takbertemu karna sibuk dengan urusan kantor masing-masing, malam ini hanya kami dansecagkir kopi yang menemani hingga pagi, menemani kami bercerita, menemani kamitertawa, hingga pagi, ya hingga pagi. Tawaku dan temanku lepas malam itu, kami mulai menceritakan tentang suatu malamyang  sama-sama  kami  alami  tentang  Nizar  yang  ingin  membangun  sebuah  Sekolahkhusus untuk Lansia saat kami sedang menunggu pesanan nasi goreng disebuah tamandialun-alun pusat pemerintahan Tangerang,  atau Reza yang bercita-cita ingin menjadiseorang  peneliti  agar  bisa  mengalahkan  dosen  pembimbing  metodelogi  penelitian  dikampus kami, semua cerita mengalir begitu saja hingga tak ada jeda waktu untuk menarik nafas.

Sementara  aku  masih  tetap  dijalurku,  ingin  menjadi  seorang  yang  namanyaterpampang di toko-toko buku dan ketika orang menyebut nama Marsel, mereka akan menganggukkan kepala dan berkata “Saya tau beberapa novel yang ia tulis”.Seakan tak pernah habis,  cerita kami masih terus berjalan bagai air gunung, mengalirlepas dicekungan-cekungan sungai angan yang kami buat sendiri,  laut yang kami tujumasih terlalu  jauh dan kami selalu  berdoa agar  bisa  berpijak disebuah samudra  yangsama, Samudra Kesuksesan. Harapan kami besar dan kami berusaha mengejar itu semua.Saat ini kami masih sibuk menertawakan cita-cita masing-masing, dengan gelinya kamimemikirkan hal-hal yang kami sepakati itu lucu dan wajar ditertawakan.

Lalu aku menceritakan kembali tentang makanan penutup saat kami berada di alun-aalunpusat  pemerintahan  Tangerang,  Nizar  yang  duduk  disamping  kananku  meneguk  kopiyang sebelumnya ia tiup sambil tersenyum malu bagai seorang ratu keraton Tegal pipinyaberubah jadi merah.

Nizar

***2011***

Reza  memintaku  memesan  makanan  pada  seorang  penjual  nasi  goring,  sementara  iamenuju pedagang asongan untuk membeli minuman, Nizar sibuk mencari posisi mantap,dimana kami akan menikmati makan malam kami nanti, lalu ia memilih sebuah lesehanyang ada ditengah alun-alun pusat pemetintahan itu.

“Udah pesanin buat gw juga?” tanya Nizar begitu aku dan Reza menghampirinya yangsedang duduk memainkan hp nokianya.

“Udah, gw juga udah pesan kopi” jawab Reza.

“Nasi goreng juga udah gw pesan tiga, tenang aja lu” lanjutku.Lalu kami duduk bersama, aku menatap sesaat ke langit, kulihat cuaca cerah malam ini,lalu  kurebahkan tubuhku telentang menghadap  langsung ke langit  “Cerah  ya,  banyakbintang” gumamku.

“Kan lagi musim kemarau” sambut Reza.Kami  diam sesaat,  Reza  dan  Nizar  sibuk memperhatikan  hp  mereka  masing-masing.

“Kopinya mas” seorang penjual kopi  keliling meletakkan tiga cangkir kopi yang tadidipesan Reza. “Makasih mas” jawab Reza.

Aku bangkit sesaat, Nizar meletakkan kopi hitam itu didepanku lalu meneguk kopinya,terpaan  angin  malam membuat  kopi  itu  Nampak sangat  ingin  kujamah,  lalu  kuteguksecangkir  kopi  yang  masih  hangat  itu,  hanya  seteguk  dan  kuletakkan  kembali.  Aku kembali menghempaskan tubuhku dilesehan yang bergambar wajah seorang Bupati yang gagal  dalam  pemilihan  sebulan  lalu,  keindahan  taburan  bintang  sangat  sulit  untukdibiarkan berlalu,  lalu sebuah ungkapan membuat aku beranjak dari baringku.“Gw mau ngebangun sebuah sekolah untuk orang tua ni”

Aku menatap tajam kearah Reza, sebaliknya ia juga melakukan hal yang sama, seketikatawa  kami  lepas  bersamaan  dengan  senyum Ratu  Tegal  yang  kemudian  melanjutkan ceramahnya yang semakin tak bisa kami pahami.

“Serius cumi, kan orang itu klo udah tua sikapnya jadi kaya anak-anak lagi, jadi gw maubikin sekolah lansia buat ngajarin mereka”“Hahahaha. Trus yang maul u ajarin tentang apa?” tanyaku

“Iya, trus klo mereka udah pada pinter, naik kelas, lu mau kuliahin? Keburu mati zar”timpal Reza. Aku pun tak sanggup menahan tawa, merasa geli akan ide gila yang tercetustiba-tiba dari mulutnya.

“Yak kan paling gak mereka ngerasa diperatiin, ajarin aja ngegambar trus main catur”berusaha membela dirinya.“Trus yang nganterin sekolah siapa? Sekolahnya berapa jam? Gurunya siapa? Klo yangudah struk gimana belajarnya?” Tanya Reza bertubi-tubi.

“hahahahahhaaa… ide lu gila mas, lansia mau disekolahin, yang ada otaknnya gosong lusuruh  mikiririn  pelajaran,  bukannya  pinter  malah  tewas  disitu  karana  sakit  kepala” timpalku lagi.

Nizar berusaha tetap tenang dan ingin terus mempertahankan pendapat dan idenya, “Daripada mereka ditinggalkan anaknya dipanti kan, mending disekolahin, tapi sekolahnya gakaya  orang  biasa,  ajarin  aja  ngejait,  bikin  origami  kek,  pasti  bisa,  gw  yakin  jugapemerintah dukung program pemberdayaan lansia” mencoba membenarkan argumennya.

“Yang ada pemerintah bilang gini zar ‘Lu tuch sakit jiwa ya? Lansia lu sekolahin? Otaklu tuh ga waras tau ga sih?” sambil menirukan bahasa anak gaul Jakarta yang sedangtrend saat  itu. Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Reza,  perutku terasadikocok-kocok.  Nizar  yang  mendengarkan  ucapan  Reza  juga  tak  bisa  menahankegeliannya.

“Cumi lu bedua, orang tu klo teman punya niat baik didukung, malah diketawain”

“Ciee ngambek” olokku.

“Klo  lu  bedua  pengen  bikin  apa?”  baliknya  sambil  mengalihkan  perhatian.  Dan  ia berhasil.“Gw pengen jadi peneliti” jawab Reza tegas.

“Klo gw pengen jadi penulis” jawabku.“Lu neliti apaan za?” tanyanya lagi.

“Banyak hal, gw bakal neliti tentang bagaimana cara kerja otak lansia, apakah masih bisa disekolahkan?” lalu ia tertawa.

Spontan aku ikut menertawakan jawaban yang mengarah pada Nizar itu.“Asu emang lu. Hahahaa” Nizar tak bisa menahan kegeliannya saat Reza mengungkinkembali tentang Sekolah Lansia. Gagal proses pengalihan yang baru saja ia rencanakan.

“Lu mau nulis apa sel?” rencana ke dua pun diluncurkannya agar tak ada lagi yang dapatmengungkit Sekolah lansia yang membuatnya tak berkutik.

“Nulis tentang apa aja” jawabku singkat dengan wajah serius.

“Jangan ditanya, paling nulis cerita dewasa” olok Reza.

“hahahaha, setuju gw sama lu za, kan otaknya ga jauh dari selangkangan” timpal Nizar berusaha melemparkan bola tertawaan kearahku.

“Sial lu zar, Gw gak akan nulis cerita dewasa, untuk  saat ini mungkin cerpen, tar klo gw udah punya banyak waktu luang, gw mau coba nulis novel” jawabku jujur.

“Lu pasti jadi penulis sel” dukung Reza.Nizar masih tak ingin menyerah untuk menjatuhkanku sekedar untuk mencari bahan yangbisa membuatku menjadi objek lelucon malam ini namun ia sama sekali tak menemukancelah.

“udah sih nulis cerita dewasa aja, tentang tante-tante girang gitu, klo ga tentang anakSMA yang jadi ayam sekolah, pasti laku keras novel lu, hahahahhaa”.

“Emang lu zar, orak lu selangkangan mulu, tobat zar, anak istri lu noh kasian dirumahminta dibeliin susu” sanggah Reza lalu kami tertawa lagi.

Aku kembali meneguk secangkir kopi yang sudah mulai kehilangan hangatnya. Anginsepoi malam yang lembut menerpa tubuh kami, nasi goreng yang kami pesan belum jugatiba,  antrian  panjang  membuat  kami  harus  lebih  bersabar.  Aku  lupa  menyampaikansesuatu  kepada  kedua  temanku  itu,  saat  hal  itu  terlintas  dikepalaku,  spontan  bibir kuberucap “Oya, besok gw udah balik ke Bali”.

“Cepat amat?” Tanya Reza sedikit terkejut.

“Iya Sel, kok buru-buru?” lanjut Nizar.

“Gw udah dipanggil kerja lusa, jadi gw ga bisa lama-lama disini” jelasku.

“Lu keterima ditempat tante lu itu?” Tanya Reza.

“Iya,  kemarin  gw dikabarin  klo  senin  ini  gw udah  bisa  masuk kerja,  sayang  klo  ga diambil”

“Kita bakal pisah lama ni?” ucap Nizar.

“Hahahaha, udah kaya apaan aja lu mas, tenang aja, tar juga gw main lagi ke sini”

“Harus itu, klo lug a main kesini biar gw sama Nizar yang nyusuluin lu ke Bali, ia gaZar?”

“Siap, sekalian godain bule. Hahahahhaa”

“Otak lu Zar-Zar” Reza menggelengkan kepalanya.

“Ada juga lansia banyak di Bali” ucapku.

“Nah Zar,  bangun Sekolah Lansia  disana aja”  goda Reza yang mengundang kembali tawaku.

“Urus aja penelitian lu, cumi” Nizar yang mulai kesal.

“Udah-udah jangan berantem, tos dulu kita,  suatu saat  kita bakal ketemu lagi  sebagaiorang sukses” aku mengangkat cangkir kopi yang ada didepanku, diikuti Nizar dan Reza.

“TOS”

“Dan ingat satu hal Sel…” lalu Nizar terdiam sesaat

.“Nanti bikin novel cerita dewasa yang bagus dan lu kirim ke gw ya. Hahahahhahaaa”lanjutnya.

besar, ntar gw juga bakal bikin cerita tentang teman gw yang lagi mabok kopi lalu punyacita-cita mau bikin Sekolah Lansia. Hahahahhahaaa” kamipun tertawa bersama.

***2012***

Sinar  kemerahan  mulai  muncul  dicelah-celah  pepohonan,  lampu-lampu  taman  mulaidimatikan, terdengar suara burung dubalik pepohonan rindang, pertanda fajar telah mulaimenyingsing. Pesawatku berangkat  pukul 07.00 wib, tiga puluh menit lagi,  aku harusmengucapkan  selamat  tinggal  pada  teman-teamnku.  Sebuah  taxi  blue  birth  merhentididepan kami bertiga, aku langsung bersalaman dan memeluk kedua temanku.

“Sampai ketemu setahun lagi, disini” ucapku.

“Siap, setahun lagi disini” ucap Reza.

“Jangan lupa salam buat wanita Bali” lanjut Nizar.

“Pasti” jawabku, lalu taxi itu berangkat, meninggalkan kedua temanku dengan senyumlebar diwajah mereka.Aku memperhatikan kesebelah kananku, lampu taman yang baru saja dimatikan namunsebuah lampu masih menyala di sebuah papan nama gedung yang cukup megah itu.KANTOR PEMERINTAHAN KOTA TANGERANGAku tersenyum kecil,

“Aku akan kembali, pasti” gumamku perlahan.

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Huraira Story

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: