MAKAN SEAFOOD DIIRINGI MUSISI RANAH SUMATERA

10 May

“Malam minggu, selesai kerja, laper, enaknya kemana ya?”

Waktu masih menunjukan pukul 21.00 wib, langit kota Tangerang masih terang benderang ditaburi bintang dan sinar rembulan yang tampak tersenyum manis menyambut weekend yang hanya tinggal menyisakkan kurang dari empat puluh delapan jam. Suster Juni, salah satu perawat senior yang sekaligus ketua timku di ruang keperawatan lantai tiga Mayapada Hospital Tangerang baru saja menyelesaikan operan status pasien kepada shift selanjutnya agar perawat selanjutnya tau rencana keperawatan apa yang akan dilakukan untuk pasien yang kami rawat di ruangan keperawatan.

“Kemana kita malam ini?” tanyanya padaku yang masih sibuk membereskan sampah-sampah sisa pemberian obat pasien sebelumnya.

“Gimana kalo makan mie aceh lopster?” jawabku singkat.

“Dimana?” timpal salah seorang wanita Jawa yang juga satu tim di dinas siang, Suster Wiwid.

Browsing aja”

Setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai, aku duduk di depan computer nurse station dan mulai menanyakan kepada ‘Mbah Google’, kemana kami harus mencari makan mie aceh lopster yang maknyus markotos. Dannnn….. jreng-jreng…. Dapet…

mie-aceh-lobster-mangat-bangka-raya-jakarta

MIE ACEH LOPSTER MANGAT” satu-satunya pilihan dan sialnya hanya buka hingga pukul 22.00 wib.

“Masih keuber ga ya jam segini?” tanyanya yang dari tadi berdiri belakangku.

“Ga mungkin lah, di Jakarta Selatan!” jawabku spontan.

“Trus gimana?” Tanyanya lagi.

“Coba tanya si Ucup deh, cewenya kan di Jakarta, mungkin dia tau tempat makan Mie Aceh yang enak”. Aku yakin Bruder Yusuf sedang asik dengan file pasien di ruang perawatan lantai empat, Yusuf adalah salah satu sahabatku yang juga menjadi teman satu kontrakanku, selain Bruder Miftah, ya kami adalah keluarga bahagia dengan satu anak. Entah siapa yang jadi ibu atau siapa yang jadi ayah dan anak. Yang jelas kami hidup rukun dalam satu kontrakan tiga petak itu. Gagang telpon sudah tertempel ditelingaku

“Malam, lantai empat, Ela, ada yang bisa dibantu?” suara seorang wanita terdengar dari sudut seberang. Suster Ela yang juga salah satu seniorku.

“Kak Ela, ini Ocen, ada Ucup?”

“Ucuup, ada telpon dari Ocen” suaranya yang mulai mengecil namun masih terdengar jelas digagang telpon.

Tanpa menunggu waktu lama, suara pria lemah gemulai itu terdengar ”Halo bro, kenapa bro?”

“Lu udah selesai belom? Kak Juni ngajak makan Mie Aceh ni, tanyain bini lu deh dimana ada tempat makan mie aceh yang enak?”

“Ohh, ya udah tar gue tanya. Bentar lagi gue kelar sih”

“Ya udah, tar kabarin gue ya. Jangan lama-lama lu, gue udah mau cabut ni”

“Iya”. Lalu percakapan itu berakhir terbawa angin hingga ke laut. (Apas sih?)

trd-sportivo

Mobil Toyota Agya berwarna silver milik Suster Juni keluar dari parkiran Mayapada Hospital Tangerang. Didalamnya sudah bertengger lima orang malaikat tanpa sayap yang kesehariannya membantu orang-orang sakit (Bahasa kerennya NURSE). Suster Juni, wanita Batak yang masih setia dengan kehidupan sendirinya duduk manis didepan sambil mencari acara music di radio, Aku yang juga senasip sebagai jomblo (gak) ngenes (Lebih senang dipanggil jomblo berkarir) memegang kemudi, lalu Suster Wiwid wong Jogya yang sibuk BBMan dengan pasanganya nun jauh di Lampung, Yusup yang sibuk mengotak-atik HP menanyakan tempat makan mie aceh pada pacarnya dan Miftah si playboy kapal selam dari Tegal yang sibuk mencari posisi nyaman saat duduk bertiga dibelakang.

toyota-agya

“Cup, gimana? Ada tempat makan mie aceh lagi ga selain di Jak-Sel?” tanyaku sambil tetap focus menyetir.

“Ada ni, kata bini gue di pasar Ben-Hil” jawabnya.

“Ya udah, berangkat kita”

toyota-agya(1)

Diiringi musik dari radio lokal, Agya silver Suster Juni menembus hiruk pikuk jalanan Jakarta, setelah melintasi tol Merak-Jakarta yang mulai lenggang. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam kami sudah masuk Bundaran Hotel Indonesia yang tak pernah sepi pengunjung, apa lagi malam minggu seperti ini beeehhh, dari ABG, ABG tua sampai ABG labil juga ada disitu.

Dengan modal internet dan google maps, akhirnya kami tiba di jalanan yang tak terlalu luas itu, PASAR BENDUNGAN HILIR Seperti pepatah Padang mengatakan ‘Alangkah kecewo hati ambo, pucok dicinto bulan tak tibo’, kita ketemu tulisan MIE ACEH SEULAWAH, tapi sayang baribu sayang ada tulisan “TUTUP” tergantung didepan pintu tralis, tanpa ditulis pun sebenarnya kami tau jika tempat makan itu sudah tutup. ‘Kacewo ambo sungguh kacewo, apo yang dicari indah dapat’.

Melupakan pepatah tanah Padang, kita berlari ke pepatah selanjutnya ‘Tak ada rotan, akar pun jadi’. Persis disebelah rumah makan Mie Aceh tersebut berdirilah sebuah singgasana beratap biru dan meja makan yang tertata rapi SANTIKA BARU SEAFOOD, orang-orang lalu lalang, ada yang lagi bakar-bakar rumah (eh, bakar ikan), ada yang lagi goreng batu (eh, kerang. Kirain batu), ada yang lagi tumis kangkung, bayam, menyan, akik, kailan, tahu, tempe, bakso, mie ayam, mie tok-tok, nasi padang, nasi jawa, nasi batak, nasi dayak, nasi melayu, nasi betawi, nasi toraja, pokoknya rame.

img_6678

Tanpa pikir panjang, sepanjang jalan kenangan, mengingat dan menimbang cacing-cacing diusus mulai naik ke usus besar dan sebentar lagi naik ke lambung karna protes keras belum dijajanin, kursi kosong yang masih terdapat piring-piring kotor dipojokan warung tenda itu kita jabanin. Menu makanan yang tertata rapi bergambar foto keluarga seafood yang terdiri dari papa kepiting, mama cumi-cumi dan cucu-cucu ikan kakap sedang tersenyum manis ditaman kangkung dengan beberapa butir cabe potong diatas taman kangkungnya.

Setelah rapat panjang lima orang sahabat ini akhirnya diambil keputusan bahwa menu yang kita pilih adalah Soup kepiting jagung, ikan kakap bakar bumbu cabe kecap, sayur kaylan. Aku selalu setia dengan es teh manis dan tentu saja dua porsi nasi putih. Kurang dari satu jam, meja makan kami sudah penuh dengan piring dan gelas kaca berisi menu sesuai pesanan kami dan tentu saja menu tambahan air kobokannya.

Soup Kepiting Jagung, behhhhh asapnya masih ngebul, ditiup sedikit lalu sensasi dilidah dan tenggorokannya ajibbbb. Suapan pertama selalu menggoda. Aroma kepiting dan sedikit bawang putih, manisnya jagung dan lembutnya kuning telur berasa makan dipantai Belitung. (Ke Belitung aja belum pernah saya).

thumb_600

Ikan Kakap Bakar, siapa yang tidak tergoda dengan senyuman manis kepala kakap yang hampir gosong itu, dagingnya yang melimpah ruah, bumbu kecap cabainya yang segar seakan berbisik ‘mas, jamah aku mas’.

62

Kaylan Tumis yang juga masih mengebul seperti knalpot motor dua tak yang dinaikin terong-terongan yang lagi bonceng cabe-cabean, aih mama, beta ndak tahan toh liat itu sayur hijau segar begitu, iler beta ampe tumpeh-tumpeh. Ga kalah sama masakan di hotel bintang lima. inforesep-sayur-kailan-bawang-putih

Senandung lagu penyejuk jiwa dari para musisi berdarah Batak mengalun lembut di telinga. Kunyahan demi kunyahan seakan mengantarkan kami mabuk kebanyang. Menikmati menu sederhana dengan iringan gitar tua yang dinyanyikan para pujangga Sumatra menengelamkan kita pada surga dunia di Benteng Hilir Jakarta. Tanpa sadar kaki-kakiku ikut berdendang mendengar merdu suara vokalis yang aku rasa Dia asli orang Batak, kalo nggak gak mungkin bahasa Bataknya lancar gitu. Dari semua lagu batak yang aku tau, hanya satu lagu yang membuat mulutku tak tahan ingin bernyanyi

“Sinangga tulo tulo wa tulo ooo ooo,…” hanya segitu. Hahaha…. (Maklum, saya orang Dayak, bukan Batak).

Tanpa terasa meja kami hanya tersisa tulang-belulang si cantik kakap yang sudah termutilasi dengan sempurna. Mangkuk soup yang benar-benar tinggal mangkuk dan piring yang tadi berdiam kaylan kini tinggal kenangan. Irama music yang selalu mengajak untuk menari menemani setiap detik kami duduk disana. Aku tidak akan pernah lupa sensasi makan seperti ini. Menghilangkan penat bersama sahabat sambil bercerita tentang masa tua, menikmati santapan yang luar biasa dari laut Indonesia dan Irama lagu daerah yang selalu merdu digendang telinga.

“Gimana, kenyang?” tanyaku Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.

Biasanya kalo aku kenyang juga ga bisa ngomong apa-apa sih, enaknya diem, ngelamun, tatapan kosong, senyum-senyum. Sama halnya dengan empat orang yang kini terlihat beg* (sensor) disepanku.

toyota-agya(2)

Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 wib, obrolan santai dimeja makan harus kami lanjutkan didalam Agya. Lalu city car itu mengantar kami pulang menembus sunyinya jalanan Jakarta hingga Tangerang. Berkendara santai ditengah kota Jakarta terasa begitu nyaman, apa lagi mengendarai kendaraan yang di design khusus untuk jalanan kota seperti ini, suara music dari radio yang terdengar bersih, tampilan luar yang modis dan keren (buka kaca sambil senyumin cewek di bundaran HI berasa ganteng full, kalau siang lebih keren pake kacamata hitam), bahan bakar irit karna udah LCGC (ga perlu patungan banyak-banyak untuk isi bensin, mending buat makan), tempat duduk empuk (si Miftah sama Ucup udah molor dibelakang), pas banget buat mobil keluarga. Ngeceng bareng teman-teman jadi terasa lebih nyaman ditemani tunggangan keren sekelas Toyota Agya. Satu lagi kenangan masa muda yang akan selalu diingat hingga tua nanti. Salom.

Advertisements

11 Responses to “MAKAN SEAFOOD DIIRINGI MUSISI RANAH SUMATERA”

  1. nizar May 14, 2015 at 10:59 am #

    oc
    en ini makin ngangenin aja

  2. nizar May 14, 2015 at 11:00 am #

    tempatnya bagus cen

    • scendry May 14, 2015 at 12:00 pm #

      Ayuk mas, kapan2 kita makan kesana…

  3. nando May 14, 2015 at 6:01 pm #

    Mantap kawan aq ni dah jd penulis skrng….

    • scendry May 15, 2015 at 3:10 am #

      Udah lama bang, udah lama… hahaha…

  4. Marcopolo May 15, 2015 at 12:37 am #

    wowww.. kapan neh????

    • scendry May 15, 2015 at 3:14 am #

      Kapan apanya put? Makan2 kita kesana? Yok…

  5. dedy oktavianus pardede May 15, 2015 at 3:45 am #

    skrg mrk kalo lg gak ada stok pake lobster air tawar juga….

    • scendry May 15, 2015 at 6:39 pm #

      wah, belum baca sampai habis… Monggo dibaca dulu…

      • dedy oktavianus pardede May 15, 2015 at 7:04 pm #

        emang yg aku omongin ini mie lobster mangat mbak , mie aceh yg di benhil kagak ada lobster, adanya cm kepiting sama udang
        aku terakhir ke mangat tahun lalu, tp wkt itu gak ada lobster laut, jd diganti 4 biji lobster air tawar…

    • scendry May 15, 2015 at 7:25 pm #

      Yah dipanggil ‘Mbak’… Bang, laki ane bang… hahaha… Sekarang lobster laut lebih menguntukngkan jika diekspor oleh petani laut, dijual di dalam negeri ga ada untungnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Huraira Story

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: