WAKTU

21 Nov
Kisah-Inspirasi-Waktu-Dan-Cinta-gedeteguh

Image by sasakala

***

Bicara tentang cinta atau uang, menjadi pilihan yang mudah ketika kita bicara tentang perasaan. Namun menjadi pilihan yang sulit ketika kita bicara tentang kehidupan dan masa depan. Hidup tanpa cinta adalah kehampaan, namun hidup hanya bergantung pada cinta juga tidak mungkin bisa dijalani sepenuhnya, terkadang kita bisa memilih keduanya sekaligus, namun dalam kondisi tertentu terkadang juga kita harus memilih salah satu diantaranya. Cinta ? ataukah uang ? Tentu pandangan seorang lelaki dan wanita sangat berbeda menyikapi hal ini. Seorang lelaki dihadapkan pada tanggung jawab yang besar untuk masa depan seorang wanita yang kelak akan menjadi bagian hidupnya dimasa depan.

Sementara bagi seorang wanita, pemenuhan akan kebutuhan hidup dasar, dicintai dengan penuh ketulusan dan romantisme dalam menjalani kehidupan bersama seorang wanita menjadi keharusan untuk dipenuhi lelaki yang kelak akan menjadi suaminya, setidaknya itu menjadi sebagian dari syarat yang orang tua mereka berikan, pengakuan dari lingkungan sosial menjadi salah satu hal yang sangat berarti di era yang penuh gengsi.

***

Pagi yang cerah, percikan embun pagi membasahi dedaunan dan kelopak bunga mawar. Lelaki paruh baya sedang duduk bersila dengan secangkir kopi hitam dan sepiring gorengan diatas meja. Seorang wanita muda keluar dari pintu utama rumah bertembok putih berjendela kayu . Raut penuh kantuk masih terlihat jelas diwajahnya. Sesekali Ia menguap sambil merentangkan kedua tangannya, melirik ke seluruh halaman rumah mulai dari tembok bata yang memisahkan antara rumahnya dan tetangga hingga sebuah pohon rambutan yang berumur dua puluh tahun lebih muda dari umurnya itu, pohon yang ditanam oleh ayahnya saat Ia berusia lima tahun.

“Laras, Laras, jam segini kok baru bangun” Tegur Ayahnya menyambut langkah pertamanya kelar rumah.

“Pagi Pa” sapa laras diikuti senyum lebar pada sosok kepala rumah tangga yang sangat Ia segani itu.

Seorang wanita paruh baya sedang asik menyapu halaman yang dipenuhi guguran daun rambutan dan ranting-ranting pohonnya yang patah. Dengan sapu lidi yang mulai berpatahan dan memendek wanita itu tampak lihay memperhatikan dimana letak dedaunan kering yang merusak pemandangan taman mawar merahnya yang mulai merekah diawal bulan september.

”Pagi Ma” sapa Laras padanya.

“Baru Bangun Laras? Anak gadis kok baru bangun jam segini “ Ketus ibu Laras, tak jauh berbeda dengan ucapan selamat pagi dari ayahnya. Ibunya hanya melirik lalu kembali meneruskan rutinitas pagi yang setiap hari Ia lakukan itu.

“Kan aku lagi libur ma, ga apa-apa dong bangun siang sekali kali. Lagian ini baru jam 09:00” Bela Laras.

“Makanya ,cepat kawin biar ga males” sambung ayahnya seraya menyerut kopi dari cangkir.

“Ahh, papa suka gitu. Anaknya bukannya diucapin selamat pagi cantik, gitu. Malah disuruh kawin. Ma, masa aku disuruh kawin sama papa?” Adu laras pada Ibunya dengan sedikit merengek manja.

Wanita yang masih asik menggengam sapu lidi itu tersenyum “Ya bener kata papamu, cepat kawin biar ga malas. Pagi-pagi ngurusin suami. Lagian mama juga pengen nimang cucu dari anak mama yang cantik ini”.

“Ihhh, mama sama papa sama aja. Kan udah ada Rido anaknya Kak Dewi” jawab laras mencoba mengalihkan topic pembicaraan yang sudah memojokkan dirinya itu.

“Nah, belajar dari kakakmu Dewi, bangun pagi, ngurusin Rido, ngurusin mas Dion, bisa sambil kerja malah. Lah kamu?” sambung ibunya.

“Iya, iya. Tar kalo udah dapet jodohnya juga aku kawin”

“Kapan?” Potong ibunya.

“Ahh, mama sama aja. Aku mau mandi dulu” Lalu laras kembali kedalam rumah dengan wajah memelas diiringgi tawa kecil dari kedua orangtuanya.

***

Didepan layar komputer, Ms. Excel sudah tersaji menjadi sarapan pagi pria berbadan langsing, berparas tampan itu. Dengan kemeja rapi berwarna biru dipadu celana bahan hitam dan sepatu hitam Dimas tampak serius mengerjakan laporan bualanan pengajuan gaji karyawan. Sebagai seorang finance, Dimas akan selalu disibukan dengan tumpukan data karyawan dan angka-angka yang membuat jidatnya selalu berkerut menjelang musim gajian. Tak jarang dia harus lembur untuk memastikan karyawan ditempatnya bekerja mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapat selama bekerja.

Lagu Home dari Michael Buble dalam playlist komputer Dimas selalu menjadi penawar rindu akan rumah yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi. Dua tahun sudah Dimas meninggalkan Pontianak dan bekerja disebuah perusahaan transportasi di Surabaya, momen Idul Fitri dua tahun ini pula yang menjadi momen paling mengguncang perasaan hati Dimas, Ia akhirnya merasakan kesepian yang luar biasa tanpa keluarga tercintanya saat merayakan hari yang penuh berkah itu.

Dering phone cell Dimas melantun pelan, terlihat di layar phone cellnya sebuah panggilan dari nomor yang sangat Ia kenal. Bahkan hampir setiap hari nomer itu mengisi panggilan masuk ataupun panggilan keluar phone cellnya. Dimas segera mengangkat panggilan itu.

Assalamualaikum…” Ucap Dimas penuh santun,

Waalaikumsalam…, udah sarapan nak…?” tanya ibu Dimas,

“Udah dong Ma…., Mama apa kabar ? Papa Apa kabar ?” tanya Dimas tak sabar .

”Semua baik-baik di sini nak, kamu apa kabar ? tanya ibunya balik.

Alamdulillah baik Ma…, Zahra apa kabarnya Ma, katanya Yudi Zara uda mask TK ya Ma?” lanjut Dimas menanyakan kabar keponakan kecilnya yang masih baru belajar berjalan saat Ia beranjak meninggalkan rumah beberapa tahun lalu.

”Iya…Zahra da masuk TK, ga kerasa ya nak, uda gede aja ponakan mu, Oom nya kapan kawin trus punya anak sendiri ?”

Sentak senyum Dimas terpecah mendengar perkataan ibunya itu. Dimas sadar bahwa candaan yang diucapkan ibunya adalah salah satu keinginan kedua orang tuannya yang saat ini belum bisa ia penuhi. Zahra adalah anak dari kakak kandung Dimas, Henny. Hampir setiap kali dalam percakapan telponnya Dimas mendengar sindiran halus yang sama baik dari ayah ataupun ibunya bahkan dari kedua kakak perempuannya Henny dan Shera.

“Haha, masih belum ma, Dimas mau fokus cari uang dulu. Lagian pacar aja belum punya gimana mau punya momongan?”

“Masa sih diperusahaan sebesar itu kamu gak ada satu pun wanita yang kecantol sama anak mama?”

“Ehh jangan salah ma, anak mama ini pria idola para wanita, tapi Dimas masih belum siap ma, kumpulin uang dulu yang banyak, ntar kalo nikah trus ga punya uang gimana? masa anak orang mau dikasi makan nasi pakai kerupuk?” canda Dimas.

“Nak, nak. Jangan cari uang terus. Mama juga mau kamu ada yang ngurusin disana”

“Iya ma, Dimas ngerti kok. Mama tenang aja, sampai saat ini Dimas masih bisa masak sama cuci baju sendiri. Hehe”

“Ya sudah, kamu lanjutkan pekerjaanmu. Jangan terlalu capek”

“Iya ma. Mama juga dijaga kesehatannya”

“Iya, sudah dulu ya. Assalamualaikum…

Waalaikumsalam…

Sejenak terlintas dipikiran Dimas tentang ucapan ibunya tentang seorang pasangan hidup namun segera ia mencoba lupakan hal itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

***

Dewi menghampiri Dimas yang sedang duduk disalah satu meja disudut kantin sembari membawa sepiring nasi dan lauk pauk serta juice jeruk yang baru saja diambil dimeja prasmanan kantin kantor yang tertata rapi. Dimas sedang asik menikmati makan siangnya dengan segelas teh manis dingin yang sekali-kali ia teguk ditengah santapan siangnya. “Dimas, gabung ya” ucap Dewi.

“Ehh kak Dewi, maaf aku ga liat. Duduk kak” sambil mempersilahkannya duduk tepat di kursi kosong dihadapannya.

“Lahap bener makannya?” sambil tersenyum.

“Iya kak, laper. Beban pikiran membuat respon lambung untuk mencerna makanan jauh lebih cepat. Haha…” Dimas kembali berteori dengan pribahasa yang entah dari mana asalnya. Kebiasaan yang selalu membuat Dewi kagum pada juniornya itu.

Dewi menjadi orang pertama yang Dimas kenal di tempat ia bekerja, sosoknya yang ramah cocok dengan pribadi Dimas yang terbuka. Banyak pekerjaan yang mereka diskusikan bersama dan selalu mendapatkan penyelesaiaan, bahkan Dewi menganggap Dimas sudah seperti adiknya sendiri. Tak terkecuali Dewi, Dimas juga sangat mengagumi sosok Dewi yang bahkan menjadi panutannya di tempat Ia bekerja. Dewi menjadi sosok yang mampu mengobati rindunya pada Henny dan Shera.

“Emang lagi mikirin apa, Dimas?” tanya Dewi sambil mulai melahap makan siangnya.

“Biasa kak, Orang tua di kampung”

“Kenapa? Kangen?” Dewi sudah sering mendengar curahan hati Dimas tentang keluarganya, bahkan hanya Dewi yang tahu tentang Dimas dan keidupan pribadinya. Dicelah waktu istirahat kantor mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk berdiskusi tentang masalah keuangan perusahaan, sesekali mereka menceritakan tentang kehidupan pribadinya Dewi tentang anak dan suaminya dan Dimas lebih sering menceritakan tantang orang tua, kakaknya Shera dan keponakan kesayangannya Zahra anak dari Henny dan Yudi.

“Kangen udah jadi makanan pokok kak. Ini lebih krusial. Haha…”

“Bahasamu Mas, Mas. Haha…” ikut tertawa. “Emang kenapa? Cerita dong” lanjut Dewi bertanya.

“Bingung kak, tadi pagi mama telpon, masa aku disuruh kawin. Pacar aja belum punya. Belum mobil, rumah dan segala pelengkap kehidupan duniawi lainnya” cerita Dimas.

“Hahahaha…” Dewi tertawa sambil meneguk jus jeruknya.

“Tu kan, malah diketawain” Dimas memasang ekspresi kesal yang tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya ia rasakan.

“Wajar kali ibumu mau kamu cepat kawin. Kamu udah cukup umur, pekerjaan juga udah punya. Apa lagi yang dicari? Ya Istri. Aku setuju sama ibumu. Pake banget. Hahaha…” goda Dewi.

“Ahh, ibu-ibu ternyata dimana-mana sama aja” ekspresi Dimas tak menunjukan perubahan.

“Aku ngerti tentang prinsip hidup yang kamu pegang. Ga munafik, kita memang butuh uang, kita butuh rumah, kendaraan, makan, biaya nikah, biaya ngurus anak dan tetek bengeknya. Tapi semua itu bisa berjalan seiring kamu membina satu hubungan. Coba lihat kamu sekarang, diotak kamu cuma kerja, kerja, kerja mulu. Emang sih presiden kita ngajak kita kerja, tapi masih banyak hal lain yang menjadi bagian penting dalam hidup. Candle light dinner sama cewe misalnya. Ini dua tahun masih aja jomblo, hidup di sisi cuma tahu kontrakan sama kantor doang, emang di Surabaya kurang cewe cakep? Mau aku pesenin dari Kalimantan? Hahaha…” nasehat Dewi sambil sedikit bercanda.

“Ya elah kakak, kejam sekali bahasamu. Lebih kejam dari rumput yang gak bergoyang ketiup angin” timpal Dimas dengan guyonannya disambut senyum kecil Dewi yang kembali perlahan melanjutkan makan siangnya. “Kan aku udah bilang, pacar aja ga punya, temen cewe juga ibu-ibu semua, ada yang single Mba Ugi CS, itu juga bentar lagi dilamar cowonya” lanjut Dimas.

Dewi meletakkan sendok dan garpunya dipinggiran piring yang meninggalkan sedikit nasi dan lauk itu, sempat berpikir sejenak “Ingat Laras adik aku ga? Yang pernah aku certain ke kamu. Si badung itu kan jomblo ngenes juga tuh. Kalian kayaknya cocok dan aku orang yang pertama ngerestuin hubungan kalian. Gimana?”

“Ibu guru itu ya? Emm, gimana ya?” Dimas meletakkan jari telunjuk dan jari tengah diujung alis kananya seolah sedang berpikir.

“Laras ga seburuk yang kamu bayangkan kok. Aku kenalin ya minggu depan. Dia anaknya baik, lucu, emang sih sedikit ngeselin, tapi anaknya seru. Mau ya aku kenalin. Punya adik ipar kamu aku rela kok. Hahaha…”

“Dih, alih profesi jadi marketing sekarang, adik sendiri lagi. Hahaha…” tawa mereka seketika lepas.

***

Sebuah pusat pembelanjaan ditengah-tengah kota Surabaya tampak ramai dipenuhi kerumunan orang yang ingin sekedar menghabiskan akhir pekan. Dewi berjalan bergandengan bersama Dion, sementara Laras mendorong kereta bayi dengan Rido yang asik melumat dotnya.

Sebuah phone cell sudah tertempel ditelinga Dewi, sebuah bercakapan singkat menggiring mereka ke sebuah restoran seafood dikawasan pusat pembelanjaan. Disana Dimas sudah duduk disalah satu meja panjang ditemani secangkir kopi.

“Dimas” sapa Dewi begitu merasa suaranya akan didengar tanpa mengganggu pengunjung lain.

“Hey kak Dewi, Mas Dion, apa kabar?” sambut Dimas saat melihat pasangan muda itu datang.

“Baik Mas, kamu gimana?” Dion balik bertanya.

“Aku baik mas. Lama ya ga ketemu” ucap Dimas.

“Oya, ini Laras adik aku” Dewi memperkenalkan Laras. “Ini ibu guru kita Kartini” lanjutnya.

Dimas tersenyum. Tampak raut wajah malu diwajah Laras mendengar cara kakaknya memperkenalkannya kepada seorang lelaki yang belum pernah ia temui sebelumnya. “Hey. Dimas”

“Laras” sambil menggapai tangan Dimas yang sudah terulur diadapannya.

***

Sebulan sejak pertemuan Laras dan Dimas malam itu dan karisma ‘mak comblang’ Dewi, mereka akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Banyak waktu yang mereka habiskan berdua hingga masuk pada bulan ke tiga diawal desember, malam yang tak pernah Dimas bayangkan sebelumnya terjadi. Dimas terlibat pembicaraan serius dengan kedua orang tua Laras.

Dimas dan Laras duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya di meja makan, Dimas sengaja diundang untuk ikut acara makan malam keluarga. Percakapan penuh basa basi berlangsung di meja makan, orang tua Laras yang sudah cukup mengenal Dimas tak canggung untuk bercanda bersama. Setelah acara makan malam selesai Pak Gino, ayah Laras mulai membicarakan tentang kelangsungan hubungannya dengan Laras.

“Nak Dimas gimana dengan Laras, sudah merasa cocok?”

Dimas terdiam sesaat, meneguk air dari gelas kaca yang ada di hadapannya. Raut wajah Laras seketika berubah tegang. “Saya sudah merasa nyaman pak, tapi saya tidak tahu dengan Laras.” Dimas mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada disebelah kirinya berharap menemukan jawaban.

“Laras nyaman sama Dimas?” tanya ayahnya.

“Ya sampai saat ini sih aku nyaman pa sama Dimas” jawab laras serius.

“Ya sudah, tunggu apa lagi kalau begitu. Nak Dimas udah siap menikah?”

Pertanyaan pak Gino bak anak panah yang langsung menancap di jantung Dimas, pertanyaan yang sulit untuk Ia jawab dalam waktu sepersekian detik. Dimas terdiam, menatap Laras perlahan. Semua mata kini tertuju pada Dimas. “Maaf om…” Dimas terdiam sesaat “Maaf, dalam waktu dekat ini saya belum berani memikirkan hal itu”

Pak Gino mengangguk dengan senyum kecil “Ya sudah, Om  mengerti. Tapi jangan terlalu lama menjalin hubungan, takut timbul fitnah. Om percaya sama nak Dimas untuk menjaga Laras, tapi kalau nak Dimas memang belum siap ya Om juga tidak bisa memaksa”

“Terima kasih om atas pengertiannya”

***

Setahun berlalu begitu cepat, kembang api menyala di langit Kota Surabaya. Dengan kemeja putih Dimas melangkah keluar dari rumahnya, ya rumahnya. Sebuah rumah minimalis yang diidam-idamkannya kini sudah terwujud. Sebuah city car berwarna merah terparkir dihalaman rumah. Dimas menikmati sejenak percikan kembang api yang menyala bergantian ‘sudah saatnya’ pikir Dimas. Ia merogoh telpon genggam yang ada dikantung celananya lalu segera mencari sebuah kontak yang ingin segera ia hubungi, Laras.

“Hey” suara sapaan terdengar jelas digendang telinga Dimas.

“Hey, lagi ngapain?” jawab Dimas.

“Lagi nonton TV aja, kenapa?”

“Aku jemput ya, kamu siap-siap”

“Hah? Mau kemana? Udah jam segini juga”

“Kamu siap-siap, setengah jam lagi aku sampai rumah” Dimas segera mematikan telpon genggamnya.

Lilin kecil ditengah meja bulat berlapis kain merah dihiasi motif bunga dari benang emas memancarkan warna merah dari pantulan air dan minyak dibawah sumbu kecilnya. Dimas mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk hati dari kantong celananya.

“Kamu boleh buka ikatan mata kamu” ucap Dimas meminta laras membuka ikatan hitam yang sedari tadi ia kenakan sejak keluar dari rumahnya. Dimas sengaja mengajaknya ke sebuah restoran, sebelumnya Dimas sudah menceritakan niatnya kepada kedua orang tua Laras namun Dimas meminta mereka merahasiakan hal tersebut. Laras sempat heran meliat orang tuanya mengijinkan anak mereka dijemput pukul satu pagi setelah merayakan pesta tahun baru dirumah.

“Aku bukan orang yang pandai merangkai kata indah, tapi jika cincin adalah lambang keseriusan hubungan kita, maukah kamu mengenakannya dan menjalani sisa hidupmu denganku?” perlahan Dimas membuka kotak yang berisi sebuah cincin emas.

Mata Laras berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk, degup jantungnya berdetak kencang. Perlahan laras mengangguk sambil menatap mata Dimas dalam “Aku mau”.

Dimas memasangkan cincin itu mantap dijari manis Laras, menggapai tangannya dan mengecup perlahan tanpa melepas pandangannya dari mata wanita yang sangat dicintainya.

Tamat.

 

 

 “Cinta atau Uang? Seharusnya Cinta dan Uang bukan menjadi sebuah pilihan yang memaksa kita mengutamakan salah satu diantaranya. Sesuatu yang utama tidak selalu menjadi yang pertama. Dalam hal ini CINTA adalah hal utama yang kita perjuangkan dan menjadi sejahtera adalah satu dari sekian banyak “langkah pertama” itu

cekaja-logo-blue-medium_footer

logo

NB: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti KOMPETISI MENULIS CERPEN “Pilih Mana: Cinta atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh http://www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Advertisements

2 Responses to “WAKTU”

  1. Purnama Wati November 24, 2015 at 3:54 am #

    cinta dan uang sama-sama penting min, tapi lebih bagus cintas ih, uang kan gampang dicari, cinta sejati yang susah…

    • scendry November 24, 2015 at 8:43 pm #

      Laki-laki dan perempuan punya pandangan berbeda tentang cinta atau uang… Setuju klo cinta sejati memang sulit dicari, itu pandangan wanita. Sementara dari sudut pandang pria, kami tidak berani mempersunting kalian jika kami belum mapan seutuhnya… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Azza's Note

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: