JANGAN MENANGIS, MAMA!

12 Dec

JANGAN MENANGIS MAMA

Untuk

Mama,

Kau tau’, ini adalah hal paling menyakitkan, aku tak bisa melihat senyum dan tawamu, aku tak bisa melihat bahagiamu seperti sebelumnya,

Waktu seakan terhenti,melihatmu menitikkan air mata tanpa suara, Kau terbaring lemah dipembaringan, tak berdaya dan yang paling aku benci adalah melihatmu sakit.

Mama, kumohon jangan menangis.

Ini sungguh menyakitkan,biarkan aku mengusap air matamu untuk pertama kalinya, Mungkin kau masih ingat mama, ketika aku kecil, aku bermain sepeda dan terjatuh, aku men

angis kencang karna kakiku luka dan berdarah, Kau bilang padaku; “Sudah jangan menangis, biar mama bersihkan lukamu” dan kau tersenyum sambil mengusap air mataku.

Mama, jangan menangis

Aku tak sanggup melihatnya. Beri aku sebuah senyuman agar aku tau kau baik-baik saja. Aku mencintaimu. Kau akan sembuh dan itu pasti, berhentilah menangis, Mama!

(Pontianak, 3/1/2015)

***

Sepenggal surat yang tak pernah dibaca ibuku, aku bahkan tak pernah mengirimkannya pada ibuku. Aku hanya menuliskan surat itu disebuah note kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi, tertulis rapi dengan tinta hitam dan beberapa tinta yang melebar oleh tetesan air mataku sendiri.

Malam terkelam dalam sejarah keluarga kami bahkan sampai saat ini tak bisa aku lupakan, tiga januari dua ribu lima belas. Wanita 42 tahun itu tampak kurus, wajahnya pucat pasi, terbaring lemah di bangsal kelas dua salah satu rumah sakit swasta di Pontianak. Kaki kanannya terbalut kassa tebal, darah segar terus mengalir dari luka akibat diabetes yang ia derita. Aku bahkan sama sekali tak menyangka luka pada kaki ibuku sampai separah itu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling tidak bergunda didunia ini, bagaimana mungkin sebagai perawat aku bahkan tidak bisa menjaga kesehatan ibuku sendiri?

Keadaan berubah saat aku memutuskan meninggalkan kampung halamanku dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang. Semua tampak baik-baik saja saat itu, saat tas gunung yang berisi pakaian dan beberapa perabotan mandi kujinjing menaiki bus malam meninggalkan rumah, jauh berbeda dengan kondisinya saat ini. Dalam enam bulan, luka yang awalnya hanya goresan kecil menjadi mala petaka yang luar biasa. Hampir sebagian besar tendon dikaki kanan ibuku menimbulkan gangrene akibat nekrosis jaringan. Keadaan ini sering terjadi pada penderita diabetes tak terkontrol. Selama ini sudah menjadi hal biasa saat melihat pasien datang ke rumah sakit dengan keadaan demikian, namun yang terjadi sekarang adalah dihadapanku terbaring pucat orang yang melahirkan dan membesarkan aku dengan tetes demi tetes ASI yang ia miliki, hal ini bahkan tak pernah terpikirkan olehku.

***

Konsentrasiku sudah mulai pecah, yang terpikirkan olehku hanya berada disamping orang yang membesarkanku dan mendidikku sejak aku kecil hingga tumbuh menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain seperti saat ini. Papaku tak sempat bercerita banyak padaku, pukul dua pagi ia menghubungiku lagi melalui telpon dan mengatakan bahwa ibuku sekarang berada di rumah sakit. Papa memintaku segera pulang dan melihat kondisinya. Mungkin karena nada suara Papa yang sangat santai membuatku berpikir bahwa tidak ada hal yang perlu dikawatirkan. Aku mengatakan mungkin akan pulang dua atau tiga hari ke depan setelah mengurus perijinanku ke kantor tempat aku bekerja.

Keesokan harinya, adikku menghubungiku melalui blackberry messenger dan mengirimkan sebuah gambar yang membuat jantungku hampir berhenti seketika. Gambar yang berokus dari lutut hingga ujung jari kaki ibuku, aku hampir tak percaya dalam waktu enam bulan sejak aku tinggalkan keadaan lukanya bisa separah itu, bahkan tulang tibia dan fibulanya sudah tampak jelas, sama seperti saat aku belajar anatomi di salah universitas paling ternama di Indonesia saat aku kuliah dulu. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan akan pulang sore ini juga.

Saat jam istirahat makan siang selesai, aku memasuki ruang kepala ruangan dengan wajah memelas “Maaf ganggu, Bu”

“Iya, kenapa Cen?” tanyanya.

“Saya mau pulang ke Pontianak Bu, Mama saya sakit”

“Tapi kamu belum dapat hak cuti dari perusahaan” alangkah terkejutnya aku mendengar hal itu.

“Saya tidak perduli Buk, maaf jika harus dipotong dari gaji saya atau sekalian saya mau dikeluarkan tidak menjadi masalah. Saya mau pulang sore ini juga”

Surat cuti sudah berada diatas meja kepala ruanganku, Ia akhirnya mengijinkan aku pulang untuk tiga hari kedepan.

***

Air mata ibuku berlinang, aku memeluknya erat tanpa sadar perlahan air mataku ikut mengalir. Pipi-pipi yang mulai mengekrut itu kucium, sebuah pemandangan yang hampir tidak ingin semua orang alami; melihat ibu yang sangat ia sayangi benar-benar tak berdaya. Orang yang menimangku saat aku menangis, memberiku ASI setiap hari saat aku kecil, mengajarkan aku berenang dalam baskom plastic, memarahiku saat aku nakal, menjewer kupingku saat aku tak mau berangkat sekolah. Saat ini ia terbaring lemah tak berdaya dengan selang infuse tertancap ditangan kirinya. Aku tak henti-hentinya mengutuk diriku dalam hati, yang bisa kulakukan saat ini hanya menangis. Sedikitpun tak kulihat senyum diwajahnya yang pucat karena anemia itu, tangannya dingin seperti es, tak terkecuali kaki dan seluruh badannya. Aku bahkan tak ingin siapapun membayangkan apa yang aku lihat saat ini. Tak ada film horror yang lebih menyeramkan daripada menyaksikan ibu yang kita sayangi terbaring di rumah sakit.

***

Lima Januari dua ribu empat belas, malam terakhir dirumah sakit dan sekaligus hari terakhir aku menjaga ibuku yang sedang sakit, malam ini menjadi malam yang sangat memilukan bagiku, aku harus kembali ke Tangerang untuk bekerja. Keadaan ibuku sudah lebih baik dari saat pertama kali aku tiba, setelah hampir 1500cc tranfusi darah dan beberapa botol albumin, ia tampak lebih segar. Setidaknya aku sudah dapat melihat senyumnya. Beberapa hari lagi ia akan menjalani operasi untuk mengangkat semua bagian yang sudah terjadi nekrosis, artinya sebagian kaki kanannya harus segera diamputasi. Aku berusaha keras meyakinkannya agar ia mau diamputasi, bukan perkara mudah meyakinkan seseorang untuk merelakan sebagian kakinya dibuang di meja operasi. Pada akhirnya setelah meyakinkan bahwa ia masih bisa berjalan dengan menggunakan kaki palsu (nantinya) akhirnya ia bersedia untuk di operasi.

“Ma, Ocen balik ke Tangerang dulu ya” pamitku keesokan harinya, pesawat rute Supadio – Soekarno Hatta sudah menungguku pukul 11.35 wib.

“Iya, hati-hati. Kerja yang benar” jawabnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, aku sangat mengerti bahwa ia tidak ingin aku segera pergi namun ia berusaha untuk tetap tegar dan merelakanku walau dengan berat hati.

Dua minggu setelah aku tinggalkan, setelah perbaikan kondisi umum ibuku akhirnya merelakan kakinya dan melanjutkan proses penyembuhan pasca operasi, bukan hal menyenangkan hanya mendengar perkembangan kesehatannya melalui telpon namun yang aku tahu kondisi kesehatanya mengalami perbaikan dan terus stabil.

***

Sekarang ini, kondisi sudah jauh berubah, jauh lebih baik, semua masa-masa kelam itu sudah berlalu. Ibuku saat ini sedang sibuk dirumah, kembali ke masa mudanya yang senang merajut. Adikku sering mengirim gambar hasil rajutan ibuku, sebuah topi bayi dan baju bayi yang katanya akan ia jual saat Natal nanti. Ia sudah sangat terbiasa dengan kaki palsu yang saat ini ia gunakan sehari-hari, enam bulan setelah sembuh dari operasi, setelah sebelumnya menggunakan kursi roda akhirnya ibuku boleh menggunakan kaki palsu, kadang ia masih sering mengeluh jika sudah jongkok akan sangat susah berdiri kembali padahal sudah hampir setahun ia menggunakannya. Selain itu ibuku juga membuat kue kering, kue kering terlezat dikampung halamanku karna hanya ibuku yang jago bikin kue disana.

TAMAT

logo logo

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Azza's Note

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words

%d bloggers like this: