Archive | #cerita_tanpa_alur RSS feed for this section

WAKTU

21 Nov
Kisah-Inspirasi-Waktu-Dan-Cinta-gedeteguh

Image by sasakala

***

Bicara tentang cinta atau uang, menjadi pilihan yang mudah ketika kita bicara tentang perasaan. Namun menjadi pilihan yang sulit ketika kita bicara tentang kehidupan dan masa depan. Hidup tanpa cinta adalah kehampaan, namun hidup hanya bergantung pada cinta juga tidak mungkin bisa dijalani sepenuhnya, terkadang kita bisa memilih keduanya sekaligus, namun dalam kondisi tertentu terkadang juga kita harus memilih salah satu diantaranya. Cinta ? ataukah uang ? Tentu pandangan seorang lelaki dan wanita sangat berbeda menyikapi hal ini. Seorang lelaki dihadapkan pada tanggung jawab yang besar untuk masa depan seorang wanita yang kelak akan menjadi bagian hidupnya dimasa depan.

Sementara bagi seorang wanita, pemenuhan akan kebutuhan hidup dasar, dicintai dengan penuh ketulusan dan romantisme dalam menjalani kehidupan bersama seorang wanita menjadi keharusan untuk dipenuhi lelaki yang kelak akan menjadi suaminya, setidaknya itu menjadi sebagian dari syarat yang orang tua mereka berikan, pengakuan dari lingkungan sosial menjadi salah satu hal yang sangat berarti di era yang penuh gengsi.

***

Pagi yang cerah, percikan embun pagi membasahi dedaunan dan kelopak bunga mawar. Lelaki paruh baya sedang duduk bersila dengan secangkir kopi hitam dan sepiring gorengan diatas meja. Seorang wanita muda keluar dari pintu utama rumah bertembok putih berjendela kayu . Raut penuh kantuk masih terlihat jelas diwajahnya. Sesekali Ia menguap sambil merentangkan kedua tangannya, melirik ke seluruh halaman rumah mulai dari tembok bata yang memisahkan antara rumahnya dan tetangga hingga sebuah pohon rambutan yang berumur dua puluh tahun lebih muda dari umurnya itu, pohon yang ditanam oleh ayahnya saat Ia berusia lima tahun.

“Laras, Laras, jam segini kok baru bangun” Tegur Ayahnya menyambut langkah pertamanya kelar rumah.

“Pagi Pa” sapa laras diikuti senyum lebar pada sosok kepala rumah tangga yang sangat Ia segani itu.

Seorang wanita paruh baya sedang asik menyapu halaman yang dipenuhi guguran daun rambutan dan ranting-ranting pohonnya yang patah. Dengan sapu lidi yang mulai berpatahan dan memendek wanita itu tampak lihay memperhatikan dimana letak dedaunan kering yang merusak pemandangan taman mawar merahnya yang mulai merekah diawal bulan september.

”Pagi Ma” sapa Laras padanya.

“Baru Bangun Laras? Anak gadis kok baru bangun jam segini “ Ketus ibu Laras, tak jauh berbeda dengan ucapan selamat pagi dari ayahnya. Ibunya hanya melirik lalu kembali meneruskan rutinitas pagi yang setiap hari Ia lakukan itu.

“Kan aku lagi libur ma, ga apa-apa dong bangun siang sekali kali. Lagian ini baru jam 09:00” Bela Laras.

“Makanya ,cepat kawin biar ga males” sambung ayahnya seraya menyerut kopi dari cangkir.

“Ahh, papa suka gitu. Anaknya bukannya diucapin selamat pagi cantik, gitu. Malah disuruh kawin. Ma, masa aku disuruh kawin sama papa?” Adu laras pada Ibunya dengan sedikit merengek manja.

Wanita yang masih asik menggengam sapu lidi itu tersenyum “Ya bener kata papamu, cepat kawin biar ga malas. Pagi-pagi ngurusin suami. Lagian mama juga pengen nimang cucu dari anak mama yang cantik ini”.

“Ihhh, mama sama papa sama aja. Kan udah ada Rido anaknya Kak Dewi” jawab laras mencoba mengalihkan topic pembicaraan yang sudah memojokkan dirinya itu.

“Nah, belajar dari kakakmu Dewi, bangun pagi, ngurusin Rido, ngurusin mas Dion, bisa sambil kerja malah. Lah kamu?” sambung ibunya.

“Iya, iya. Tar kalo udah dapet jodohnya juga aku kawin”

“Kapan?” Potong ibunya.

“Ahh, mama sama aja. Aku mau mandi dulu” Lalu laras kembali kedalam rumah dengan wajah memelas diiringgi tawa kecil dari kedua orangtuanya.

***

Didepan layar komputer, Ms. Excel sudah tersaji menjadi sarapan pagi pria berbadan langsing, berparas tampan itu. Dengan kemeja rapi berwarna biru dipadu celana bahan hitam dan sepatu hitam Dimas tampak serius mengerjakan laporan bualanan pengajuan gaji karyawan. Sebagai seorang finance, Dimas akan selalu disibukan dengan tumpukan data karyawan dan angka-angka yang membuat jidatnya selalu berkerut menjelang musim gajian. Tak jarang dia harus lembur untuk memastikan karyawan ditempatnya bekerja mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapat selama bekerja.

Lagu Home dari Michael Buble dalam playlist komputer Dimas selalu menjadi penawar rindu akan rumah yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi. Dua tahun sudah Dimas meninggalkan Pontianak dan bekerja disebuah perusahaan transportasi di Surabaya, momen Idul Fitri dua tahun ini pula yang menjadi momen paling mengguncang perasaan hati Dimas, Ia akhirnya merasakan kesepian yang luar biasa tanpa keluarga tercintanya saat merayakan hari yang penuh berkah itu.

Dering phone cell Dimas melantun pelan, terlihat di layar phone cellnya sebuah panggilan dari nomor yang sangat Ia kenal. Bahkan hampir setiap hari nomer itu mengisi panggilan masuk ataupun panggilan keluar phone cellnya. Dimas segera mengangkat panggilan itu.

Assalamualaikum…” Ucap Dimas penuh santun,

Waalaikumsalam…, udah sarapan nak…?” tanya ibu Dimas,

“Udah dong Ma…., Mama apa kabar ? Papa Apa kabar ?” tanya Dimas tak sabar .

”Semua baik-baik di sini nak, kamu apa kabar ? tanya ibunya balik.

Alamdulillah baik Ma…, Zahra apa kabarnya Ma, katanya Yudi Zara uda mask TK ya Ma?” lanjut Dimas menanyakan kabar keponakan kecilnya yang masih baru belajar berjalan saat Ia beranjak meninggalkan rumah beberapa tahun lalu.

”Iya…Zahra da masuk TK, ga kerasa ya nak, uda gede aja ponakan mu, Oom nya kapan kawin trus punya anak sendiri ?”

Sentak senyum Dimas terpecah mendengar perkataan ibunya itu. Dimas sadar bahwa candaan yang diucapkan ibunya adalah salah satu keinginan kedua orang tuannya yang saat ini belum bisa ia penuhi. Zahra adalah anak dari kakak kandung Dimas, Henny. Hampir setiap kali dalam percakapan telponnya Dimas mendengar sindiran halus yang sama baik dari ayah ataupun ibunya bahkan dari kedua kakak perempuannya Henny dan Shera.

“Haha, masih belum ma, Dimas mau fokus cari uang dulu. Lagian pacar aja belum punya gimana mau punya momongan?”

“Masa sih diperusahaan sebesar itu kamu gak ada satu pun wanita yang kecantol sama anak mama?”

“Ehh jangan salah ma, anak mama ini pria idola para wanita, tapi Dimas masih belum siap ma, kumpulin uang dulu yang banyak, ntar kalo nikah trus ga punya uang gimana? masa anak orang mau dikasi makan nasi pakai kerupuk?” canda Dimas.

“Nak, nak. Jangan cari uang terus. Mama juga mau kamu ada yang ngurusin disana”

“Iya ma, Dimas ngerti kok. Mama tenang aja, sampai saat ini Dimas masih bisa masak sama cuci baju sendiri. Hehe”

“Ya sudah, kamu lanjutkan pekerjaanmu. Jangan terlalu capek”

“Iya ma. Mama juga dijaga kesehatannya”

“Iya, sudah dulu ya. Assalamualaikum…

Waalaikumsalam…

Sejenak terlintas dipikiran Dimas tentang ucapan ibunya tentang seorang pasangan hidup namun segera ia mencoba lupakan hal itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

***

Dewi menghampiri Dimas yang sedang duduk disalah satu meja disudut kantin sembari membawa sepiring nasi dan lauk pauk serta juice jeruk yang baru saja diambil dimeja prasmanan kantin kantor yang tertata rapi. Dimas sedang asik menikmati makan siangnya dengan segelas teh manis dingin yang sekali-kali ia teguk ditengah santapan siangnya. “Dimas, gabung ya” ucap Dewi.

“Ehh kak Dewi, maaf aku ga liat. Duduk kak” sambil mempersilahkannya duduk tepat di kursi kosong dihadapannya.

“Lahap bener makannya?” sambil tersenyum.

“Iya kak, laper. Beban pikiran membuat respon lambung untuk mencerna makanan jauh lebih cepat. Haha…” Dimas kembali berteori dengan pribahasa yang entah dari mana asalnya. Kebiasaan yang selalu membuat Dewi kagum pada juniornya itu.

Dewi menjadi orang pertama yang Dimas kenal di tempat ia bekerja, sosoknya yang ramah cocok dengan pribadi Dimas yang terbuka. Banyak pekerjaan yang mereka diskusikan bersama dan selalu mendapatkan penyelesaiaan, bahkan Dewi menganggap Dimas sudah seperti adiknya sendiri. Tak terkecuali Dewi, Dimas juga sangat mengagumi sosok Dewi yang bahkan menjadi panutannya di tempat Ia bekerja. Dewi menjadi sosok yang mampu mengobati rindunya pada Henny dan Shera.

“Emang lagi mikirin apa, Dimas?” tanya Dewi sambil mulai melahap makan siangnya.

“Biasa kak, Orang tua di kampung”

“Kenapa? Kangen?” Dewi sudah sering mendengar curahan hati Dimas tentang keluarganya, bahkan hanya Dewi yang tahu tentang Dimas dan keidupan pribadinya. Dicelah waktu istirahat kantor mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk berdiskusi tentang masalah keuangan perusahaan, sesekali mereka menceritakan tentang kehidupan pribadinya Dewi tentang anak dan suaminya dan Dimas lebih sering menceritakan tantang orang tua, kakaknya Shera dan keponakan kesayangannya Zahra anak dari Henny dan Yudi.

“Kangen udah jadi makanan pokok kak. Ini lebih krusial. Haha…”

“Bahasamu Mas, Mas. Haha…” ikut tertawa. “Emang kenapa? Cerita dong” lanjut Dewi bertanya.

“Bingung kak, tadi pagi mama telpon, masa aku disuruh kawin. Pacar aja belum punya. Belum mobil, rumah dan segala pelengkap kehidupan duniawi lainnya” cerita Dimas.

“Hahahaha…” Dewi tertawa sambil meneguk jus jeruknya.

“Tu kan, malah diketawain” Dimas memasang ekspresi kesal yang tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya ia rasakan.

“Wajar kali ibumu mau kamu cepat kawin. Kamu udah cukup umur, pekerjaan juga udah punya. Apa lagi yang dicari? Ya Istri. Aku setuju sama ibumu. Pake banget. Hahaha…” goda Dewi.

“Ahh, ibu-ibu ternyata dimana-mana sama aja” ekspresi Dimas tak menunjukan perubahan.

“Aku ngerti tentang prinsip hidup yang kamu pegang. Ga munafik, kita memang butuh uang, kita butuh rumah, kendaraan, makan, biaya nikah, biaya ngurus anak dan tetek bengeknya. Tapi semua itu bisa berjalan seiring kamu membina satu hubungan. Coba lihat kamu sekarang, diotak kamu cuma kerja, kerja, kerja mulu. Emang sih presiden kita ngajak kita kerja, tapi masih banyak hal lain yang menjadi bagian penting dalam hidup. Candle light dinner sama cewe misalnya. Ini dua tahun masih aja jomblo, hidup di sisi cuma tahu kontrakan sama kantor doang, emang di Surabaya kurang cewe cakep? Mau aku pesenin dari Kalimantan? Hahaha…” nasehat Dewi sambil sedikit bercanda.

“Ya elah kakak, kejam sekali bahasamu. Lebih kejam dari rumput yang gak bergoyang ketiup angin” timpal Dimas dengan guyonannya disambut senyum kecil Dewi yang kembali perlahan melanjutkan makan siangnya. “Kan aku udah bilang, pacar aja ga punya, temen cewe juga ibu-ibu semua, ada yang single Mba Ugi CS, itu juga bentar lagi dilamar cowonya” lanjut Dimas.

Dewi meletakkan sendok dan garpunya dipinggiran piring yang meninggalkan sedikit nasi dan lauk itu, sempat berpikir sejenak “Ingat Laras adik aku ga? Yang pernah aku certain ke kamu. Si badung itu kan jomblo ngenes juga tuh. Kalian kayaknya cocok dan aku orang yang pertama ngerestuin hubungan kalian. Gimana?”

“Ibu guru itu ya? Emm, gimana ya?” Dimas meletakkan jari telunjuk dan jari tengah diujung alis kananya seolah sedang berpikir.

“Laras ga seburuk yang kamu bayangkan kok. Aku kenalin ya minggu depan. Dia anaknya baik, lucu, emang sih sedikit ngeselin, tapi anaknya seru. Mau ya aku kenalin. Punya adik ipar kamu aku rela kok. Hahaha…”

“Dih, alih profesi jadi marketing sekarang, adik sendiri lagi. Hahaha…” tawa mereka seketika lepas.

***

Sebuah pusat pembelanjaan ditengah-tengah kota Surabaya tampak ramai dipenuhi kerumunan orang yang ingin sekedar menghabiskan akhir pekan. Dewi berjalan bergandengan bersama Dion, sementara Laras mendorong kereta bayi dengan Rido yang asik melumat dotnya.

Sebuah phone cell sudah tertempel ditelinga Dewi, sebuah bercakapan singkat menggiring mereka ke sebuah restoran seafood dikawasan pusat pembelanjaan. Disana Dimas sudah duduk disalah satu meja panjang ditemani secangkir kopi.

“Dimas” sapa Dewi begitu merasa suaranya akan didengar tanpa mengganggu pengunjung lain.

“Hey kak Dewi, Mas Dion, apa kabar?” sambut Dimas saat melihat pasangan muda itu datang.

“Baik Mas, kamu gimana?” Dion balik bertanya.

“Aku baik mas. Lama ya ga ketemu” ucap Dimas.

“Oya, ini Laras adik aku” Dewi memperkenalkan Laras. “Ini ibu guru kita Kartini” lanjutnya.

Dimas tersenyum. Tampak raut wajah malu diwajah Laras mendengar cara kakaknya memperkenalkannya kepada seorang lelaki yang belum pernah ia temui sebelumnya. “Hey. Dimas”

“Laras” sambil menggapai tangan Dimas yang sudah terulur diadapannya.

***

Sebulan sejak pertemuan Laras dan Dimas malam itu dan karisma ‘mak comblang’ Dewi, mereka akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Banyak waktu yang mereka habiskan berdua hingga masuk pada bulan ke tiga diawal desember, malam yang tak pernah Dimas bayangkan sebelumnya terjadi. Dimas terlibat pembicaraan serius dengan kedua orang tua Laras.

Dimas dan Laras duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya di meja makan, Dimas sengaja diundang untuk ikut acara makan malam keluarga. Percakapan penuh basa basi berlangsung di meja makan, orang tua Laras yang sudah cukup mengenal Dimas tak canggung untuk bercanda bersama. Setelah acara makan malam selesai Pak Gino, ayah Laras mulai membicarakan tentang kelangsungan hubungannya dengan Laras.

“Nak Dimas gimana dengan Laras, sudah merasa cocok?”

Dimas terdiam sesaat, meneguk air dari gelas kaca yang ada di hadapannya. Raut wajah Laras seketika berubah tegang. “Saya sudah merasa nyaman pak, tapi saya tidak tahu dengan Laras.” Dimas mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada disebelah kirinya berharap menemukan jawaban.

“Laras nyaman sama Dimas?” tanya ayahnya.

“Ya sampai saat ini sih aku nyaman pa sama Dimas” jawab laras serius.

“Ya sudah, tunggu apa lagi kalau begitu. Nak Dimas udah siap menikah?”

Pertanyaan pak Gino bak anak panah yang langsung menancap di jantung Dimas, pertanyaan yang sulit untuk Ia jawab dalam waktu sepersekian detik. Dimas terdiam, menatap Laras perlahan. Semua mata kini tertuju pada Dimas. “Maaf om…” Dimas terdiam sesaat “Maaf, dalam waktu dekat ini saya belum berani memikirkan hal itu”

Pak Gino mengangguk dengan senyum kecil “Ya sudah, Om  mengerti. Tapi jangan terlalu lama menjalin hubungan, takut timbul fitnah. Om percaya sama nak Dimas untuk menjaga Laras, tapi kalau nak Dimas memang belum siap ya Om juga tidak bisa memaksa”

“Terima kasih om atas pengertiannya”

***

Setahun berlalu begitu cepat, kembang api menyala di langit Kota Surabaya. Dengan kemeja putih Dimas melangkah keluar dari rumahnya, ya rumahnya. Sebuah rumah minimalis yang diidam-idamkannya kini sudah terwujud. Sebuah city car berwarna merah terparkir dihalaman rumah. Dimas menikmati sejenak percikan kembang api yang menyala bergantian ‘sudah saatnya’ pikir Dimas. Ia merogoh telpon genggam yang ada dikantung celananya lalu segera mencari sebuah kontak yang ingin segera ia hubungi, Laras.

“Hey” suara sapaan terdengar jelas digendang telinga Dimas.

“Hey, lagi ngapain?” jawab Dimas.

“Lagi nonton TV aja, kenapa?”

“Aku jemput ya, kamu siap-siap”

“Hah? Mau kemana? Udah jam segini juga”

“Kamu siap-siap, setengah jam lagi aku sampai rumah” Dimas segera mematikan telpon genggamnya.

Lilin kecil ditengah meja bulat berlapis kain merah dihiasi motif bunga dari benang emas memancarkan warna merah dari pantulan air dan minyak dibawah sumbu kecilnya. Dimas mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk hati dari kantong celananya.

“Kamu boleh buka ikatan mata kamu” ucap Dimas meminta laras membuka ikatan hitam yang sedari tadi ia kenakan sejak keluar dari rumahnya. Dimas sengaja mengajaknya ke sebuah restoran, sebelumnya Dimas sudah menceritakan niatnya kepada kedua orang tua Laras namun Dimas meminta mereka merahasiakan hal tersebut. Laras sempat heran meliat orang tuanya mengijinkan anak mereka dijemput pukul satu pagi setelah merayakan pesta tahun baru dirumah.

“Aku bukan orang yang pandai merangkai kata indah, tapi jika cincin adalah lambang keseriusan hubungan kita, maukah kamu mengenakannya dan menjalani sisa hidupmu denganku?” perlahan Dimas membuka kotak yang berisi sebuah cincin emas.

Mata Laras berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk, degup jantungnya berdetak kencang. Perlahan laras mengangguk sambil menatap mata Dimas dalam “Aku mau”.

Dimas memasangkan cincin itu mantap dijari manis Laras, menggapai tangannya dan mengecup perlahan tanpa melepas pandangannya dari mata wanita yang sangat dicintainya.

Tamat.

 

 

 “Cinta atau Uang? Seharusnya Cinta dan Uang bukan menjadi sebuah pilihan yang memaksa kita mengutamakan salah satu diantaranya. Sesuatu yang utama tidak selalu menjadi yang pertama. Dalam hal ini CINTA adalah hal utama yang kita perjuangkan dan menjadi sejahtera adalah satu dari sekian banyak “langkah pertama” itu

cekaja-logo-blue-medium_footer

logo

NB: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti KOMPETISI MENULIS CERPEN “Pilih Mana: Cinta atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh http://www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Advertisements

I MISS YOU, THAT’S ALL

4 Oct

SONY DSC

I don’t know when,

I don’t know where,

I don’t know why?

I just miss you no matter how much i have try to be batter,

I just miss you.

I can remember your beautiful face when you sleep in the night, beside me.

I can remember when you smile in the morning and say hallo to me with a tired face.

I can remember all of you, all.

And now you gone, leave me alone with the memories.

I just miss you, that all.

I don’t wanna you back and hug me like before,

I don’t wanna you telling ‘i love  you” everyday or “I miss you too’, no i’m not.

I just need you to be happy, with or without my.

I want to say thanks for everything, every time and every moment what do you gift to me in our short memories, that is awesome.

And the end, one more time i want to say i miss you. I miss you so…

MAAF ITU SEDERHANA!

21 Sep

ochenn

Saya pernah bertemu seorang wanita bule sedang menikmati liburan di Tanah Lot beberapa waktu lalu, saya melihat anaknya menangis minta digendong oleh wanita itu. Entah ada kejadian apa sebelumnya tapi yang saya dengar adalah ibunya berkata agar anaknya minta maaf untuk kesalahan yang baru saja ia lakukan…

“Say sorry!” Kata ibu itu sambil melihat anaknya yang terus menangis ingin digendong.

“Follow me; Sorry mom!” Lanjutnya sambil mencontohkan.

Lalu anak kecil putih berusia kurang lebih 4 tahun itu mengikuti perkataanya.
“Mom, i’m sorry mom!” Ucap anak itu sambil terus menangis.

Saya melihat senyum kecil merekah di wajah wanita itu, lalu ia segera mengangkat dan menggendong anaknya.

Sesederhana itu, hanya sebuah kata maaf lalu semua akan kembali seperti semula…

A Story Of Life

27 Jul

85885078062646165731

Ini cerita nyata tentang seorang ayah dan anak.

Suatu ketika sang ayah mendapat pekerjaan diluar rumah (sebuah Show) dan Ia harus pergi ke luar kota untuk menghadiri Show tersebut karna kontrak kerja sudah ditanda tangani. Ia hanya perlu satu hari untuk pergi dan keesokan harinya Ia sudah akan tiba di rumah. Ia pikir ia akan mudah bicara pada anaknya untuk sehari tanpanya di rumah, nyatanya sang anak menolak.

Anak : I want to go with you.. No matter what

Ayah : Cuma sehari sayang.. Kalau kamu ikut akan cape dan bisa sakit.

Anak : No problem I still want to go with you.

Ayah : kalau kamu sakit nanti papa sedih kan..

Anak : belum tentu Aku sakit kan.

Ayah : ngapain sih kamu ngotot untuk ikut itu?!

Anak : karna Aku takut pesawat nya jatuh…

Ayah : loh.. Loh ngaco kamu.. Kalau jatuh malah kamu kan selamat kalau gak ikut papa.

Anak : yes.. And thats the point.

Ayah : maksud kamu?

Anak : kalau pesawatnya jatuh.. Aku mau ada disana sama papa. Thats it. I go with you.

Apa yang kamu lihat dari percakapan sederhana tersebut?

Masa kecil saya pernah mengalami hal yang sama dan posisi saya sebagai anak, saya hanya ingin ikut kemanapun ayah saya pergi bahkan saya harus menangis agar saya bisa ikut beliau. Hal yang sama mungkin pernah dialami setiap orang semasa kecilnya, takut ditinggalkan orang yang Ia sayang, takut orang yang Ia sayang tak kembali lagi ke rumah.

Kisah ini diambil dari cerita nyata seorang Mentalis nomer satu di Indonesia bersama anaknya; Deddy Corbuzier.

AKU HANYA BISA MENCINTAIMU

31 May

2013-03-30 00.50.44

Kau terlelap di pembaringan, dengan selimut tebal coklat tua, mengenakan piama putih dengan wajah penuh lelah. Aku duduk disana, menggenggam jemarimu hingga kau terlelap, pulas.

Sesekali kau membuka mata, menatapku yang kau kira tak lagi terjaga, namun aku masih setia menyaksikan indah wajahmu yang bahkan tak ingin kuhilangkan walau sedetik saja.

Tanpa sepatah kata, kita habiskan malam hanya berdua. Tidak menyenangkan melihatmu terbaring lemah disana. Bukan tanpa alasan aku mengkhawatirkan keadaanmu yang mulai pucat. Jangan tanya ‘kenapa?’ sebab aku tak punya jawaban atasnya.

Andai kau bertanya; mengapa aku disana, duduk disampingmu saat aku juga lelah dengan semua aktifitas gila sebelum bisa melihatmu lebih dekat. Andai kau memintaku memberi alasan. Tapi tak sepatah kata pun kudengar, aku mengerti.

Siapa aku yang hanya bisa memujamu dalam diam, lama sebelum waktu itu. Aku hanya pasir diantara batu-batu besar, dan kau?

Aku tau kau tau, walau tak sekalipun kuungkap. Aku tau kau mengerti, walau tak sekalipun kulayangkan kecup dikeningmu. dan kau adalah satu alasan untukku jatuh cinta lagi…

‘Aku mencintaimu!’ kata yang tak sanggup kuucap dihadapanmu hingga saat ini tapi aku mencintaimu tanpa perlu mengatakannya, bukan? Dan kau tau.

Jika mencintaimu adalah kesalahan besar maka biarkan aku melakukan kesalahan sekali lagi dalam hidupku dan aku akan bahagia menerima hukumannya.

Aku tak sepandai mereka dalam menggengam jemarimu, berlutut dengan bunga mawar merah dan katakan “Aku mencintaimu!”.

Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam namun bisa kau rasa, aku hanya bisa mencintaimu dari balik tembok besar yang kokoh tanpa terlihat, aku hanya bisa mencintaimu dengan segala kebodohanku dan menjadikannya benar.

Akhirnya aku harus membenci kenyataan bahwa aku hanya bisa mencintaimu, ya, hanya bisa mencintaimu.

DARI SECANGKIR KOPI

24 Apr

Reza

***2012***

Sudah pukul dua pagi, aku dan teman-temanku masih sibuk tertawa membahas cerita-cerita  klasik  kami  semasa  kuliah,  secangkir  kopi  panas  menemani  kami  menunggumatahari yang tadi sore terbenam, tak ada niat beranjak atau ingin cepat-cepat menujurumah dan memeluk guling dikamar tidur kami masing-masing, sudah setahun kami takbertemu karna sibuk dengan urusan kantor masing-masing, malam ini hanya kami dansecagkir kopi yang menemani hingga pagi, menemani kami bercerita, menemani kamitertawa, hingga pagi, ya hingga pagi. Tawaku dan temanku lepas malam itu, kami mulai menceritakan tentang suatu malamyang  sama-sama  kami  alami  tentang  Nizar  yang  ingin  membangun  sebuah  Sekolahkhusus untuk Lansia saat kami sedang menunggu pesanan nasi goreng disebuah tamandialun-alun pusat pemerintahan Tangerang,  atau Reza yang bercita-cita ingin menjadiseorang  peneliti  agar  bisa  mengalahkan  dosen  pembimbing  metodelogi  penelitian  dikampus kami, semua cerita mengalir begitu saja hingga tak ada jeda waktu untuk menarik nafas.

Sementara  aku  masih  tetap  dijalurku,  ingin  menjadi  seorang  yang  namanyaterpampang di toko-toko buku dan ketika orang menyebut nama Marsel, mereka akan menganggukkan kepala dan berkata “Saya tau beberapa novel yang ia tulis”.Seakan tak pernah habis,  cerita kami masih terus berjalan bagai air gunung, mengalirlepas dicekungan-cekungan sungai angan yang kami buat sendiri,  laut yang kami tujumasih terlalu  jauh dan kami selalu  berdoa agar  bisa  berpijak disebuah samudra  yangsama, Samudra Kesuksesan. Harapan kami besar dan kami berusaha mengejar itu semua.Saat ini kami masih sibuk menertawakan cita-cita masing-masing, dengan gelinya kamimemikirkan hal-hal yang kami sepakati itu lucu dan wajar ditertawakan.

Lalu aku menceritakan kembali tentang makanan penutup saat kami berada di alun-aalunpusat  pemerintahan  Tangerang,  Nizar  yang  duduk  disamping  kananku  meneguk  kopiyang sebelumnya ia tiup sambil tersenyum malu bagai seorang ratu keraton Tegal pipinyaberubah jadi merah.

Nizar

***2011***

Reza  memintaku  memesan  makanan  pada  seorang  penjual  nasi  goring,  sementara  iamenuju pedagang asongan untuk membeli minuman, Nizar sibuk mencari posisi mantap,dimana kami akan menikmati makan malam kami nanti, lalu ia memilih sebuah lesehanyang ada ditengah alun-alun pusat pemetintahan itu.

“Udah pesanin buat gw juga?” tanya Nizar begitu aku dan Reza menghampirinya yangsedang duduk memainkan hp nokianya.

“Udah, gw juga udah pesan kopi” jawab Reza.

“Nasi goreng juga udah gw pesan tiga, tenang aja lu” lanjutku.Lalu kami duduk bersama, aku menatap sesaat ke langit, kulihat cuaca cerah malam ini,lalu  kurebahkan tubuhku telentang menghadap  langsung ke langit  “Cerah  ya,  banyakbintang” gumamku.

“Kan lagi musim kemarau” sambut Reza.Kami  diam sesaat,  Reza  dan  Nizar  sibuk memperhatikan  hp  mereka  masing-masing.

“Kopinya mas” seorang penjual kopi  keliling meletakkan tiga cangkir kopi yang tadidipesan Reza. “Makasih mas” jawab Reza.

Aku bangkit sesaat, Nizar meletakkan kopi hitam itu didepanku lalu meneguk kopinya,terpaan  angin  malam membuat  kopi  itu  Nampak sangat  ingin  kujamah,  lalu  kuteguksecangkir  kopi  yang  masih  hangat  itu,  hanya  seteguk  dan  kuletakkan  kembali.  Aku kembali menghempaskan tubuhku dilesehan yang bergambar wajah seorang Bupati yang gagal  dalam  pemilihan  sebulan  lalu,  keindahan  taburan  bintang  sangat  sulit  untukdibiarkan berlalu,  lalu sebuah ungkapan membuat aku beranjak dari baringku.“Gw mau ngebangun sebuah sekolah untuk orang tua ni”

Aku menatap tajam kearah Reza, sebaliknya ia juga melakukan hal yang sama, seketikatawa  kami  lepas  bersamaan  dengan  senyum Ratu  Tegal  yang  kemudian  melanjutkan ceramahnya yang semakin tak bisa kami pahami.

“Serius cumi, kan orang itu klo udah tua sikapnya jadi kaya anak-anak lagi, jadi gw maubikin sekolah lansia buat ngajarin mereka”“Hahahaha. Trus yang maul u ajarin tentang apa?” tanyaku

“Iya, trus klo mereka udah pada pinter, naik kelas, lu mau kuliahin? Keburu mati zar”timpal Reza. Aku pun tak sanggup menahan tawa, merasa geli akan ide gila yang tercetustiba-tiba dari mulutnya.

“Yak kan paling gak mereka ngerasa diperatiin, ajarin aja ngegambar trus main catur”berusaha membela dirinya.“Trus yang nganterin sekolah siapa? Sekolahnya berapa jam? Gurunya siapa? Klo yangudah struk gimana belajarnya?” Tanya Reza bertubi-tubi.

“hahahahahhaaa… ide lu gila mas, lansia mau disekolahin, yang ada otaknnya gosong lusuruh  mikiririn  pelajaran,  bukannya  pinter  malah  tewas  disitu  karana  sakit  kepala” timpalku lagi.

Nizar berusaha tetap tenang dan ingin terus mempertahankan pendapat dan idenya, “Daripada mereka ditinggalkan anaknya dipanti kan, mending disekolahin, tapi sekolahnya gakaya  orang  biasa,  ajarin  aja  ngejait,  bikin  origami  kek,  pasti  bisa,  gw  yakin  jugapemerintah dukung program pemberdayaan lansia” mencoba membenarkan argumennya.

“Yang ada pemerintah bilang gini zar ‘Lu tuch sakit jiwa ya? Lansia lu sekolahin? Otaklu tuh ga waras tau ga sih?” sambil menirukan bahasa anak gaul Jakarta yang sedangtrend saat  itu. Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Reza,  perutku terasadikocok-kocok.  Nizar  yang  mendengarkan  ucapan  Reza  juga  tak  bisa  menahankegeliannya.

“Cumi lu bedua, orang tu klo teman punya niat baik didukung, malah diketawain”

“Ciee ngambek” olokku.

“Klo  lu  bedua  pengen  bikin  apa?”  baliknya  sambil  mengalihkan  perhatian.  Dan  ia berhasil.“Gw pengen jadi peneliti” jawab Reza tegas.

“Klo gw pengen jadi penulis” jawabku.“Lu neliti apaan za?” tanyanya lagi.

“Banyak hal, gw bakal neliti tentang bagaimana cara kerja otak lansia, apakah masih bisa disekolahkan?” lalu ia tertawa.

Spontan aku ikut menertawakan jawaban yang mengarah pada Nizar itu.“Asu emang lu. Hahahaa” Nizar tak bisa menahan kegeliannya saat Reza mengungkinkembali tentang Sekolah Lansia. Gagal proses pengalihan yang baru saja ia rencanakan.

“Lu mau nulis apa sel?” rencana ke dua pun diluncurkannya agar tak ada lagi yang dapatmengungkit Sekolah lansia yang membuatnya tak berkutik.

“Nulis tentang apa aja” jawabku singkat dengan wajah serius.

“Jangan ditanya, paling nulis cerita dewasa” olok Reza.

“hahahaha, setuju gw sama lu za, kan otaknya ga jauh dari selangkangan” timpal Nizar berusaha melemparkan bola tertawaan kearahku.

“Sial lu zar, Gw gak akan nulis cerita dewasa, untuk  saat ini mungkin cerpen, tar klo gw udah punya banyak waktu luang, gw mau coba nulis novel” jawabku jujur.

“Lu pasti jadi penulis sel” dukung Reza.Nizar masih tak ingin menyerah untuk menjatuhkanku sekedar untuk mencari bahan yangbisa membuatku menjadi objek lelucon malam ini namun ia sama sekali tak menemukancelah.

“udah sih nulis cerita dewasa aja, tentang tante-tante girang gitu, klo ga tentang anakSMA yang jadi ayam sekolah, pasti laku keras novel lu, hahahahhaa”.

“Emang lu zar, orak lu selangkangan mulu, tobat zar, anak istri lu noh kasian dirumahminta dibeliin susu” sanggah Reza lalu kami tertawa lagi.

Aku kembali meneguk secangkir kopi yang sudah mulai kehilangan hangatnya. Anginsepoi malam yang lembut menerpa tubuh kami, nasi goreng yang kami pesan belum jugatiba,  antrian  panjang  membuat  kami  harus  lebih  bersabar.  Aku  lupa  menyampaikansesuatu  kepada  kedua  temanku  itu,  saat  hal  itu  terlintas  dikepalaku,  spontan  bibir kuberucap “Oya, besok gw udah balik ke Bali”.

“Cepat amat?” Tanya Reza sedikit terkejut.

“Iya Sel, kok buru-buru?” lanjut Nizar.

“Gw udah dipanggil kerja lusa, jadi gw ga bisa lama-lama disini” jelasku.

“Lu keterima ditempat tante lu itu?” Tanya Reza.

“Iya,  kemarin  gw dikabarin  klo  senin  ini  gw udah  bisa  masuk kerja,  sayang  klo  ga diambil”

“Kita bakal pisah lama ni?” ucap Nizar.

“Hahahaha, udah kaya apaan aja lu mas, tenang aja, tar juga gw main lagi ke sini”

“Harus itu, klo lug a main kesini biar gw sama Nizar yang nyusuluin lu ke Bali, ia gaZar?”

“Siap, sekalian godain bule. Hahahahhaa”

“Otak lu Zar-Zar” Reza menggelengkan kepalanya.

“Ada juga lansia banyak di Bali” ucapku.

“Nah Zar,  bangun Sekolah Lansia  disana aja”  goda Reza yang mengundang kembali tawaku.

“Urus aja penelitian lu, cumi” Nizar yang mulai kesal.

“Udah-udah jangan berantem, tos dulu kita,  suatu saat  kita bakal ketemu lagi  sebagaiorang sukses” aku mengangkat cangkir kopi yang ada didepanku, diikuti Nizar dan Reza.

“TOS”

“Dan ingat satu hal Sel…” lalu Nizar terdiam sesaat

.“Nanti bikin novel cerita dewasa yang bagus dan lu kirim ke gw ya. Hahahahhahaaa”lanjutnya.

besar, ntar gw juga bakal bikin cerita tentang teman gw yang lagi mabok kopi lalu punyacita-cita mau bikin Sekolah Lansia. Hahahahhahaaa” kamipun tertawa bersama.

***2012***

Sinar  kemerahan  mulai  muncul  dicelah-celah  pepohonan,  lampu-lampu  taman  mulaidimatikan, terdengar suara burung dubalik pepohonan rindang, pertanda fajar telah mulaimenyingsing. Pesawatku berangkat  pukul 07.00 wib, tiga puluh menit lagi,  aku harusmengucapkan  selamat  tinggal  pada  teman-teamnku.  Sebuah  taxi  blue  birth  merhentididepan kami bertiga, aku langsung bersalaman dan memeluk kedua temanku.

“Sampai ketemu setahun lagi, disini” ucapku.

“Siap, setahun lagi disini” ucap Reza.

“Jangan lupa salam buat wanita Bali” lanjut Nizar.

“Pasti” jawabku, lalu taxi itu berangkat, meninggalkan kedua temanku dengan senyumlebar diwajah mereka.Aku memperhatikan kesebelah kananku, lampu taman yang baru saja dimatikan namunsebuah lampu masih menyala di sebuah papan nama gedung yang cukup megah itu.KANTOR PEMERINTAHAN KOTA TANGERANGAku tersenyum kecil,

“Aku akan kembali, pasti” gumamku perlahan.

TAMAT

Kasih Sayang Ibu

16 Dec

Image

Baru saja,

Aku membuka kamar itu perlahan, sudah pukul 02.00 pagi. Kotak obat, alcohol swab dan jarum suntik sudah tersusun rapi diwadah stenlis. Selangkah demi selangkah kudekati bet yang diatasnya tertidur seorang anak 12 tahun, sudah waktunya memberi terapi.

Disamping anak yang tertidur pulas itu nampak sesosok wanita yang sudah cukup berumur, tidak terlalu tua memang, aku bisa menebak usianya belum menginjak angka 40. Wanita itu tampak tertidur pulas tepat disebuah kursi disamping bet anaknya.

Ada hal lain yang membuat aku tersentak, aku diam sesaat. Mataku tak bisa lepas dari ujung jemari sang ibu, tangannya lekat disela-sela jemari anaknya, menggengganm erat penuh kasih sayang, nampak jelas dari situ. Aku membayangkan hal lain, entah apa…

Mataku masih terjaga, secangkir kopi susu menemani ku di nurse station lantai 3. Lalu kisah ini ada…

Salam at Pagi

24 May

2013-03-30 00.42.07“Siapa wanita-wanita yang tidur denganku semalam?” tanya pria berambut cepak itu pada sahabatnya. Tubuhnya masih telentang tanpa busana dipembaringan.
“Aku bahkan tidak melihat seorang wanita pun keluar dari kamarmu saat tiba disini…” ia terdiam sesaat.
“lalu?” tanya pria itu lagi, bingung.
“Aku melihat tiga orang pria dengan lipstik belepotan berlari saat aku mengetuk pintu. dan aku menemukan ini” sambil tertunduk sebuah wig pirang disodorkan kewajah sahabatnya.
(Tamat).

DO YOU STILL LOVE ME? #FF2IN1

15 Oct

Aku membuka kembali sebuah kotak berwarna coklat, sebuah foto dan catatan tanganmu mengingatkan aku pada kisah kita. Satu tahun berjalan terlalu singkat untuk merasakan bahwa kita sanggup menjalani ini semua.

***2012***

Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku masih memikirkanmu, ya masih memikirkanmu. Lalu kubuka akun FB-mu, membaca pesan-pesan dinding yang ada diprofilmu. Entah dari siapa, bahkan aku tak pernah mengenal mereka, selain teman-teman sekelas dan teman bermainmu.

Lalu aku menulis pesan terakhir di akun FB-mu…

“Aku merindukanmu dan selalu begitu… Semoga kita dapat melalui ini dan saat aku kembali, kau akan ada untukku dan memelukku selamanya”

Tak pernah ada balasan untuk itu…

Timbul tanya dibenakku “Masihkah kau mencintaiku?”

***2010***

Malam itu masih terlalu dini untuk kembali ke rumah, aku mengajakmu ke sebuah tempat yang disebut “Bukit Bintang”, kau menatapku tajam seolah tak ingin kehilanganku. Aku baru saja lulus sekolah menengah atas dan kamu baru menginjakkan kaki dikelas tiga.

“Donna, aku akan lanjutin kuliah di Jogya” ucapku.

“Iya, aku tau” jawabmu singkat.

“Apa kita sanggup jalani ini?”

“Rico, kamu sayang kan sama aku?” tiba-tiba kamu menanyakan hal yang kita sama-sama tau jawabanya.

“Tentu saja aku sayang sama kamu” jawabku meyakinkanya.

“Jika kamu sayang sama aku, jangan pernah menanyakkan hal itu lagi. Kita pasti mampu jalani ini semua. Pasti” lalu ia memelukku kencang.

Aku menatap langit yang bertabur bintang, wajar tempat ini disebut ‘Bukit Bintang” aku bahkan bisa melihat hingga ke sudut terluar langit yang begitu luas. Malam ini menjadi alasan kenapa aku harus kembali. seseorang menungguku disini.

***

Suara klakson bus memberi tanda bahwa aku harus segera masuk, wanita itu berdiri didepanku dengan wajah tertunduk, matanya terlihat berkaca-kaca. Aku memeluk wanita itu dengan lembut sambil membelai rambutnya.

“Aku pasti kembali, kita akan bersama lagi” ucapku.

“Aku akan menjaga cinta kita disini dan aku akan menunggu hingga kamu kembali, Rico” lalu perlahan air matanya menetes dibahuku.

“Kita pasti mampu jalani ini semua, pasti” ucapku.

Gadis itu terdiam tanpa kata. “Aku harus pergi sekarang” lalu aku mengecup keningnya dan beranjak menuju bus yang dari tadi menungguku.

Donna masih tertunduk. aku tau apa yang ia rasakan, sama seperti apa yang aku rasakan saat ini, aku akan meninggalkan seseorang yang sangat aku cintai disini dan aku akan sangat kehilangan.

Itulah saat terakhir aku melihat Donna.

***2012***

Sudah larut malam, kuperhatikan jam dinding menunjukan pukul 23.15. Aku baru saja berbaring dikamar kostku yang dipenuhi hiasan dinding dari kulit kayu, khas Kalimantan, tempatku berasal.

Tuuutttt….. Tuuuttttt…. Tuuutttttt…..

Sebuah pesan singkat masuk dihp nokia 3315 pemberian ayahku saat aku ingin berangkat ke jogya dua tahun lalu.

Sebuah nomer baru yang tak pernah kukenal.

“Rico ya? Sorry ganggu malem-malem, gw Dimas. Gw cuma mau bilang, lu jangan ganggu Donna lagi. Gw udah jadian sama dia”

Aku menegaskan diriku, membaca kembali pesan singkat itu. Jantungku seakan berhenti seketika.

Terbesik dipikiranku “Mana janjimu?”, “Apa maksud dari semua ini”, “Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
Aku meletakkan hp pemberian ayahku itu dan menghempaskan tubuhku kekasur. Aku menatap langit-langit kamar “Semua akan baik-baik saja” pikirku. Dan aku akan mulai melupakan dua tahun yang kulewati bersama Donna.

@OchenV

PUPUS #FF2IN1

15 Oct

***

“Dan aku hanya bisa menatapmu dibalik jendela, berharap kau berpaling dan menghampiriku…”

Aku menulis puisi dibalik pepohonan rindang disamping kantin sekolah, kamu sedang menghabiskan makan siangmu bersama teman-temanmu, disana. Hampir setiap hari kulakukan hal yang sama, menatap rambutmu yang hitam legam, wajah oriental dengan lesung pipi yang melekat dipipi kananmu. keindahan itu yang selalu membuatku ingin duduk disana, sebuah kursi tua dibawah pohon rindang disamping kantin sekolah.

“Kikan, semoga kebahagian menghampirimu, setiap saat, bahkan setiap waktu…” ucapku dalam hati.

***

Tak ada yang terlewatkan, senyummu, tawamu, ceriamu, semua terlintas dihadapku. Kau masih duduk disana, dengannya.

Suatu ketika, dibalik jendela kelas aku diam-diam menatapmu yang sedang berolahraga, berlari mengelilingi lapangan basket yang ada ditengah sekolah. Kamu mengguanakan baju lengan panjang berwarna biru, ya itu baju olahraga kakak kelasku. Semua anak kelas dua menggunakanya.

Taukah kamu betapa aku mengkhawatirkanmu saat kau terjatuh dan kakimu luka saat itu? Aku memberimu sebuah sapu tangan dan kau bilang “Terima kasih”, senyummu mengembang sebelum teman-temanmu membawamu ke UKS. Taukah kamu bahwa aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat kamu akhirnya dibawa pulang oleh kedua orang tuamu saat itu?

Aku kembali kekelasku dengan perasaan gundah “Kikan, semoga tak pernah terjadi hal buruk dalam hidupmu dan semoga kamu baik-baik saja” tulisku lagi.

***

Aku menunggu digerbang sekolah, lalu mobil Jazz biru itu berhenti didepanku, kamu keluar dan langsung berjalan masuk ke lingkungan sekolah. Aku lega karna tau tidak terjadi hal buruk padamu.

“Hari ini akan diadakan pemeriksaan rutin dari anggota osis” begitulah pengumuman yang diberikan pak Tegar sebelum kami semua masuk kedalam kelas. Anggota osis mengumpulkan kami dilapangan lalu mereka mulai memeriksa tas dan bawaan seluruh siswa.

Kamu menghampiriku dan memintaku membuka tasku. Kamu tau betapa paniknya aku saat itu? Jantungku seakan ingin berhenti berdetak saat kamu mengambil sebuah binder biru sesuai warna favoritku.

“Nama kamu Rheva Faizal?”

“Iya kikan. Ehh maaf. Kak kikan”

“Ini buku apa?”

“Ehhh, bukan apa-apa kok kak, buku catatan biasa”

Tak ada yang bisa aku lakukan saat kamu buka satu per satu puisi yang tertulis disana, lalu kamu berhenti pada satu bab kemudian menatapku tajam. Kamu kembali membuka bab itu dan melipatnya.

“Kamu pintar bikin puisi ya Rheva” lalu kamu tersenyum.

“Nih, aku kembaliin” lanjutnya lalu memberikan binder itu ketanganku.

Aku terpaku, diam tampa kata. Seakan semua tubuhku membeku begitu saja.

“Oya, makasih ya. Tapi Kikan yang ada disitu hatinya udah milik orang lain. Kamu pasti bisa dapetin Kikan-Kikan yang lain” ucapnya pergi dengan sebuah senyum kecil dibibirnya.

Aku membuka lipatan yang dibuat oleh Kikan, disana tertulis jelas nama seorang wanita, ya wanita yang tadi berdiri didepanku “Kikan Alfani”.

Sebuah catatan kecil tertera disana:

“Kikan Alfani, bila ada kesempatan untuk sebuah cinta, aku hanya ingin mencintaimu saja”.

***TAMAT***

studentnurseanonymous

stories, rants, tips and tricks for all the student nurses just trying to get by.

Storyshucker

A blog full of humorous and poignant observations.

Sindy Agusrini

cumbui aku dengan intelektualitasmu

Mr. Ice Cream

Cool, Sweet and Smooth

Huraira Story

Semoga menjadi 'penghibur' atau setidaknya bisa 'menemani' :)v

A Nomadian

Wandering around, seeking comfort anywhere it could be.

awalia nurizka

Catatan Awal

Her Journey to Eternity

Wretched Sinner, Justified

Bintang Bumoe

★|@bintangbumoe|♡Apakah kamu bisa mencintai langit yang berganti warna seperti aku mencintai hujan yang selalu sama?♡|bintangbumoe90@gmail.com|★

Awesome Life

Awesome Photos Awesome Words